Bagikan:

JAKARTA – Sudah lebih dari setahun Starlink tersedia di Indonesia, tetapi perjalanannya tidak semulus yang mungkin diharapkan SpaceX. Hal ini terjadi karena banyaknya tantangan yang perlu diatasi perusahaan. 

Satelit ini pertama kali hadir pada Mei tahun lalu dan bisa dimanfaatkan di berbagai wilayah, termasuk di area yang sulit terjangkau jaringan optik atau seluler. Layanan konektivitas satelit ini hadir sebagai alternatif koneksi nirkabel yang kuat. 

Namun, Starlink tidak sepopuler yang dibayangkan. Hal ini didasari oleh kecepatan unduh Starlink yang turun hampir dua pertiga hampir setengahnya. Menurut Opensignal, perusahaaan analitik jaringan seluler internasional, penurunan ini disebabkan oleh permintaan yang melonjak tinggi. 

Kemacetan ini memaksa Starlink untuk menghentikan sementara pendaftaran pelanggan baru. Ketika layanan dilanjutkan pada Juli 2025, perusahaan memberlakukan 'biaya lonjakan permintaan' yang sangat mahal. 

Biaya ini berkisar antara Rp8 juta hingga Rp9,4 juta, jauh melampaui rata-rata upah bulanan di Indonesia. Biaya ini pun sulit dijangkau oleh kebanyakan pekerja. Ini juga kontras dengan tujuan awal SpaceX yang ingin menjangkau daerah kurang terlayani.

"Data menunjukkan bahwa Starlink berhasil menjangkau daerah terpencil, namun tantangannya sekarang adalah menyeimbangkan kecepatan dengan konsistensi dan aksesibilitas harga. Indonesia membutuhkan solusi pelengkap, bukan hanya satu teknologi yang mendominasi," kata Opensignal dalam sebuah keterangan, dilansir pada Senin, 13 Oktober. 

Starlink juga menghadapi tantangan persaingan karena solusi Fixed Wireless Access (FWA) lebih sering diandalkan. Solusi ini didominasi oleh beberapa perusahaan, salah satunya Orbit dari Telkomsel, yang lebih menjangkau masyarakat keseluruhan. 

Starlink menunjukkan kecepatan unduh yang sedikit lebih baik daripada FWA, solusi yang masih menggunakan 4G. Namun, FWA memimpin dalam tiga metrik lain, terutama dalam konsistensi kualitas yang hampir 50 persen lebih tinggi dari Starlink. 

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Starlink lebih cepat dalam kondisi optimal, FWA memberikan pengalaman yang lebih stabil. Untungnya, Starlink menunjukkan peningkatan konsistensi kualitas dari 24,2 persen menjadi 30,9 persen dalam setahun.