Bagikan:

JAKARTA - Fenomena September Effect yang merupakan mitos lama sejak puluhan tahun lalu, kerap menjadi periode paling lemah bagi indeks saham AS dan juga aset digital seperti kripto. 

Ketegangan September 2025 ini semakin terasa karena pada 17 September mendatang, di mana The Fed akan menentukan arah suku bunga. Bagi pasar kripto, kombinasi September Effect dan keputusan The Fed menjadi ujian besar.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin melihat bahwa performa harga saat ini yang masih relatif stagnan dengan beberapa koreksi minor dalam beberapa pekan terakhir, membuat kapitalisasi pasar kripto global saat ini masih berada di angka sekitar 3,96 triliun dolar AS. 

“Namun, indeks Fear & Greed berada di level 49, menunjukkan pasar masih netral, belum optimistis, tapi juga tidak panik. Ini berbeda dengan situasi pada kondisi di 11 Agustus lalu di mana indeks tersebut berada di angka 70,” jelas Fahmi dalam keterangannya.

Selain itu, yang lebih membedakan tahun ini dengan periode historis sebelumnya adalah aliran dana besar dari investor institusional melalui ETF spot. 

Menurutnya, aliran masuk yang stabil sepanjang tahun telah memberi pondasi lebih kuat bagi harga Bitcoin dan Ethereum, sehingga penurunan harga yang ada relatif minor dan membuat Bitcoin mampu mempertahankan level harga di atas 100.000 dolar AS (Rp1,64 miliar).

Bagi para investor, September kali ini bukan semata soal hindari bulan sial. Justru yang lebih penting adalah disiplin strategi menghadapi kombinasi faktor musiman dan makroekonomi.

“Salah satu strategi yang dapat dioptimalkan investor selain investasi rutin atau Dollar Cost Averaging (DCA). Selain itu, investor juga perlu memperhatikan proyeksi perkembangan inflasi serta pandangan The Fed ke depan bisa menjadi cara mengelola risiko dengan tetap menjaga eksposur terhadap peluang kenaikan harga,” ujarnya.

Di sisi lain, Fahmi menambahkan, aset dengan katalis yang kuat seperti Bitcoin dan Ethereum masih bisa jadi pilihan bagi traders momentum.