Bagikan:

JAKARTA - Kantor Kepala Digital dan Kecerdasan Buatan (Chief Digital and Artificial Intelligence Office/CDAO) memberikan kontrak kepada OpenAI dan xAI untuk mengembangkan dan menerapkan kemampuan AI dalam berbagai misi pertahanan. 

Dengan nilai kontrak masing-masing perusahaan mencapai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,26 triliun, Departemen Pertahanan (DoD) memanfaatkan teknologi dan talenta dari perusahaan AI mereka. 

Artinya OpenAI dan xAI akan membantu mengembangkan agentic AI workflows—sistem kerja otonom berbasis AI—di berbagai ranah, mulai dari medan perang hingga pengolahan data strategis.

"Memanfaatkan solusi komersial yang tersedia dalam pendekatan kemampuan terintegrasi akan mempercepat penggunaan AI canggih sebagai bagian dari tugas misi penting gabungan kami,” ujar Kepala Digital dan AI, Doug Matty. 

Nantinya, CDAO akan menyediakan akses ke berbagai model AI generatif (GenAI) terbaru untuk keperluan umum kepada Komando Tempur Gabungan, Kantor Sekretaris Pertahanan, dan Staf Gabungan. 

Akses ini disediakan melalui Enterprise Large Language Model Workspace milik Angkatan Darat yang didukung oleh Ask Sage, serta melalui berbagai platform AI internal seperti Advancing Analytics (Advana), Maven Smart System, dan Edge Data Mesh.

Seluruh inisiatif ini bertujuan mengintegrasikan AI langsung ke dalam alur kerja harian dan lingkungan data milik DoD.

Sebagai tambahan, DoD juga menggandeng Administrasi Layanan Umum AS (GSA) untuk memperluas distribusi teknologi AI ke seluruh instansi federal. 

Kolaborasi ini memungkinkan pemerintah AS memanfaatkan daya beli lintas lembaga (whole-of-government buying power) guna mendukung produksi dan infrastruktur komputasi AI secara nasional.