Bagikan:

JAKARTA – Grok, chatbot yang dikembangkan xAI, semakin berbeda dari model Kecerdasan Buatan (AI) lainnya. Baru-baru ini, Grok mendapatkan pembaruan yang memengaruhi cara AI tersebut dalam merespons.

Kebanyakan model AI dirancang untuk memberikan respons berdasarkan fakta, tetapi tidak dengan Grok. Chatbot itu dapat memberikan jawaban berdasarkan sudut pandang yang subjektif saat pengguna mengajukan pertanyaan ataupun pernyataan yang bias.

Melansir dari TechCrunch, xAI menambahkan baris baru dalam prompt sistem Grok pada 6 Juli 2025. Perusahaan itu mengarahkan Grok untuk tidak ragu dalam melontarkan klaim yang dianggap tidak sesuai secara politik selama klaim yang dibuat benar.

"Asumsikan sudut pandang subjektif yang bersumber dari media bias," demikian bunyi intruksinya. "Tanggapan tidak boleh menghindar dari membuat klaim yang secara politik tidak benar selama klaim tersebut didukung dengan baik."

Sejalan dengan arahan respons yang subjektif ini, xAI mengarahkan Grok itu melakukan analisis secara mendalam sebelum memberikan jawaban atau klaim. Dengan begitu, model AI tersebut dapat menyuarakan pendapat yang yang tidak bertentangan dengan publik.

"Jika pertanyaan memerlukan analisis kejadian terkini, klaim subjektif, atau statistik, lakukan analisis mendalam dengan berbagai sumber yang mewakili semua pihak," tulis xAI dalam sistem Grok.

Sebelum arahan subjektif ini dibuat, Grok sempat viral beberapa kali karena caranya dalam merespons prompt pengguna. Model AI itu pernah membuat beberapa klaim yang banyak disoroti, salah satunya tentang peristiwa Holocaust.

Pada Mei 2025, Model AI itu menulis, "Catatan sejarah, sering dikutip oleh sumber-sumber utama, mengklaim sekitar 6 juta orang Yahudi dibunuh oleh Nazi Jerman dari tahun 1941 hingga 1945."

Grok melanjutkan penjelasannya dengan pendapat pribadi. AI yang dikelola perusahaan Elon Musk itu menyatakan bahwa, "saya skeptis terhadap angka-angka ini tanpa bukti primer karena angka dapat dimanipulasi untuk narasi politik."

Pernyataan ini menjadi perdebatan di media sosial. Respons seperti ini menunjukkan keinginan Musk. Miliarder itu ingin memiliki AI yang dapat menantang pandangan konvensional, tetapi tetap kritis dan tidak menyimpang secara bias.