JAKARTA - Aktris Scarlett Johansson mendesak para legislator AS untuk menetapkan batasan terhadap kecerdasan buatan (AI) setelah video deepfake dirinya yang tidak sah menjadi viral. Aktris tersebut menyerukan regulasi untuk melarang video deepfake yang dibuat menggunakan AI, dengan menyatakan:
“Sangat menakutkan bahwa pemerintah AS tetap diam dan lamban dalam mengesahkan undang-undang yang melindungi warganya dari bahaya AI yang semakin nyata.”
Video deepfake tersebut juga menampilkan lebih dari selusin selebritas Yahudi lainnya.
Awal pekan ini, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan versi AI Johansson mengenakan kaos putih dengan gambar tangan yang mengacungkan jari tengah. Di tengah tangan tersebut terdapat Bintang Daud, serta tulisan "Kanye" di bawahnya.
Selain Johansson, video tersebut juga menampilkan versi AI dari beberapa selebriti Yahudi terkenal, seperti Drake, Jerry Seinfeld, Steven Spielberg, Mark Zuckerberg, Jack Black, Mila Kunis, dan Lenny Kravitz. Video itu diakhiri dengan pesan:
👉 “Cukup Sudah”
👉 “Bergabunglah dalam Perlawanan Melawan Antisemitisme”
Dalam pernyataan kepada People, Johansson mengutuk penggunaan AI yang disalahgunakan, tanpa memandang pesan yang dibawanya.
“Saya adalah seorang wanita Yahudi yang tidak mentoleransi antisemitisme atau ujaran kebencian dalam bentuk apa pun. Namun, saya juga percaya bahwa potensi ujaran kebencian yang diperbanyak oleh AI jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang bertanggung jawab atasnya. Kita harus mengkritisi penyalahgunaan AI, apa pun pesannya, atau kita akan kehilangan kendali atas kenyataan.”
BACA JUGA:
Johansson Pernah Jadi Korban AI Sebelumnya
Ini bukan kali pertama Scarlett Johansson menjadi korban teknologi AI. Pada 2023, ia mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap sebuah perusahaan yang menggunakan kemiripan AI dirinya dalam iklan tanpa izin.
Bahkan, pada Mei tahun lalu, ia mengaku "terkejut dan marah" setelah mendengar suara yang mirip dengan suaranya dalam asisten AI ChatGPT milik OpenAI.
Sementara itu, meskipun AS telah memperkenalkan RUU untuk melawan deepfake eksplisit secara seksual pada tahun lalu, sedikit kemajuan yang terlihat dalam regulasi AI secara lebih luas.
Teknologi AI telah membuat pembuatan video deepfake semakin mudah. Jika regulasi tidak segera diterapkan, bukan tidak mungkin ancaman ini akan semakin besar di masa depan.