Bagikan:

JAKARTA – Perusahaan kripto ternama asal Singapura, Crypto.com, resmi mengumumkan akan menghentikan perdagangan atau delisting terkait stablecoin Tether (USDT) dan sembilan token lainnya di Uni Eropa mulai 31 Januari 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menaati regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) yang baru berlaku di Eropa.

Selain USDT, token yang dihapus mencakup Wrapped Bitcoin (WBTC), Dai (DAI), Pax Dollar (PAX), PayPal USD (PYUSD), dan Liquid CRO (LCRO). Meski pembelian dan deposit token tersebut akan diblokir, pengguna masih bisa menarik aset hingga 31 Maret 2025.

Regulasi MiCA

European Securities and Markets Authority (ESMA) telah mendesak bursa kripto membatasi stablecoin yang tidak memenuhi syarat MiCA. Salah satu syarat utamanya adalah penerbit stablecoin wajib menyimpan lebih dari 60% cadangan di bank terakreditasi dan memiliki lisensi e-money.

Tether, stablecoin terbesar dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar 139 miliar dolar AS (Rp2.251,8 triliun), hingga kini belum memenuhi aturan tersebut. Akibatnya, USDT telah dihapus dari sejumlah bursa besar seperti Coinbase dan Binance di Eropa. 

Penghapusan ini berdampak signifikan pada kapitalisasi pasar Tether yang merosot signifikan dari puncaknya sekitar 140 miliar dolar AS (Rp2.268 triliun) pada Desember 2024. Market cap USDT berangsur-angsur turun menjadi 137 miliar dolar AS (Rp2.219,4 triliun) awal bulan ini—penurunan terbesar dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, pesaing Tether, Circle—penerbit stablecoin USDC terbesar kedua—berhasil memenuhi persyaratan MiCA. Tahun lalu, perusahaan ini memperoleh izin dari regulator Prancis, Autorité de Contrôle Prudentiel et de Résolution (ACPR), untuk menerbitkan USDC dan EURC di Eropa.

Dampak pada Pasar Kripto Eropa

Keberadaan USDT selama ini menjadi tulang punggung likuiditas pasar kripto, terutama untuk transaksi antara aset kripto dan mata uang fiat. Penghapusannya berpotensi mengurangi efisiensi perdagangan dan meningkatkan volatilitas harga di Eropa.

Meski demikian, pengguna masih bisa mengakses USDT melalui bursa terdesentralisasi (CEX) atau dompet non-kustodial. Namun, masa depan Tether di Eropa tetap suram jika perusahaan bersikukuh menolak patuh.

Bersamaan dengan itu, Tether yang dipimpin Paolo Ardoino tersebut secara terbuka menolak menyesuaikan cadangan obligasi AS ke uang tunai di bank Eropa, seperti diwajibkan MiCA. Perusahaan menilai kebijakan itu "terlalu berisiko" bagi model bisnisnya.

Dengan batas waktu Januari 2025, penerbit stablecoin kini dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti aturan yang berlaku di Eropa atau hengkang dari pasar kedua terbesar di dunia tersebut. Bagi Tether, keputusan ini akan menentukan apakah mereka bisa mempertahankan dominasinya di tengah gelombang regulasi yang semakin ketat.