JAKARTA - Industri penambangan Bitcoin di Rusia tengah mengalami pertumbuhan pesat. Permintaan peralatan penambangan kripto atau rig mining turut melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan ini bersamaan dengan menguatnya harga Bitcoin sepanjang tahun 2024 yang membuat aktivitas penambangan semakin menggiurkan bagi individu maupun perusahaan.
Rusia kini menjelma menjadi salah satu pusat penambangan Bitcoin terbesar di dunia. Perubahan regulasi yang mendukung ekspansi industri ini menjadi salah satu faktor pendorongnya.
Kebijakan baru yang signifikan adalah diperbolehkannya penambangan tanpa pendaftaran bagi pengguna dengan konsumsi energi di bawah 6.000 kWh per bulan. Sementara itu, operasi penambangan yang lebih besar tetap harus mematuhi peraturan yang lebih ketat.
BACA JUGA:
Perubahan dalam kebijakan perpajakan juga turut memengaruhi iklim industri ini. Pemerintah Rusia kini membebaskan transaksi kripto dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Namun, pemerintah mengenakan pajak sebesar 15% untuk aset yang ditambang, yang dihitung setelah dikurangi biaya operasional.
Meskipun industri penambangan crypto mengalami lonjakan, pemerintah Rusia juga menerapkan pembatasan kegiatan penambangan di 10 wilayah yang mengalami defisit energi hingga tahun 2031. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan permintaan energi.
Terlepas dari pembatasan tersebut, Bitcoin terus memperkuat posisinya dalam perekonomian Rusia. Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, bahkan mengonfirmasi bahwa Bitcoin kini digunakan dalam transaksi internasional.
Data terbaru menunjukkan bahwa perubahan regulasi dan kondisi pasar yang mendukung telah menempatkan Rusia sebagai kekuatan baru dalam peta penambangan Bitcoin global. Namun, di tengah pertumbuhan yang pesat ini, pemerintah Rusia tetap berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan industri mining kripto dengan energi berkelanjutan. Upaya ini menjadi tantangan tersendiri bagi negeri Beruang Merah.