JAKARTA - Pasar kripto bergejolak lagi setelah mengalami kenaikan signifikan pada pekan pertama bulan Desember. Bitcoin (BTC), sebagai aset utama di pasar kripto, menunjukkan tanda-tanda penurunan harga. Tercatat kapitalisasi pasar BTC merosot 5,44% dalam 24 jam terakhir, mencapai 3,43 triliun dolar AS (Rp54.880 triliun).
Penurunan ini terjadi di saat investor menganggap pasar kripto sedang bullish. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi dan seberapa dalam Bitcoin bisa jatuh?
Bagi para pelaku pasar yang berpengalaman, situasi menurunnya pasar crypto sebenarnya bukan hal yang asing. Ketika pasar kripto memasuki fase “greed” atau keinginan yang berlebihan, di mana banyak trader merasa pasar akan terus naik, seringkali hal ini diikuti dengan koreksi harga yang tajam.
Di dunia trading, ini adalah momen di mana pasar biasanya mengambil keuntungan dari para trader yang terlampau optimistis. Para ahli di dunia kripto sering mengingatkan, "Jika pasar terlalu tamak, maka saatnya untuk waspada."
Bersamaan dengan itu, Bitcoin baru saja mengalami penurunan sekitar 13,6% setelah gagal mempertahankan harganya di level tertinggi sepanjang masa (ATH). Setelah mencoba untuk pulih, Bitcoin kembali gagal bangkit dan pada 9 Desmber, harga BTC menembus rata-rata pergerakan 20 hari, yang menyebabkan kepanikan di pasar.
BACA JUGA:
Selanjutnya, Bitcoin terus terperosok di bawah rata-rata pergerakan 50 dan 100 hari, yang semakin memperburuk kondisi pasar. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan pada harga 96.607 dolar AS (Rp1,55 miliar), turun 2,90% dalam 24 jam terakhir, dengan volume perdagangan yang meningkat hingga 118% akibat banyaknya trader yang mulai melakukan shorting.
Likuidasi Besar-besaran di Pasar
Data dari Coinglass menunjukkan adanya likuidasi besar-besaran, dengan total mencapai 1,75 miliar dolar AS (Rp28 triliun) dalam 24 jam terakhir. Sebagian besar likuidasi ini melibatkan trader long yang terperangkap dalam pergerakan turun harga Bitcoin.
Di sisi lain, data whale orders menunjukkan bahwa banyak pemegang Bitcoin besar justru lebih memilih untuk melakukan shorting, menunjukkan ketidakpastian yang tinggi di pasar. Meski begitu, belum jelas apakah Bitcoin akan bisa pulih atau malah jatuh lebih dalam, bergantung pada adanya daya beli yang kuat di masa mendatang.