Bagikan:

JAKARTA – Daimler Truck, pembuat truk terbesar di dunia, pada Senin, 28 Maret  mengatakan pihaknya akan membatasi produksi di beberapa pabriknya di Jerman karena kekurangan semikonduktor yang sangat kritis.

Perusahaan truk  yang sudah dipisahkan dari Mercedes-Benz sejak tahun lalu, mengatakan pihaknya akan menangguhkan produksi di beberapa area di lokasi Mannheim pada Maret ini dan di pabrik Gaggenau pada April depan. Namun mereka tak memberikan secara lebih spesifik penyebabnya kecuali krisis chip.

Menurut Kepala eksekutif Daimler Truck biaya pembuatan truk listrik akan "selamanya lebih tinggi" dibandingkan truk dengan mesin pembakaran internal. Hal ini dilaporkan pula oleh Financial Times melaporkan pada Minggu, 27 Maret. Ini juga disebabkan karena invasi Rusia ke Ukraina yang menambah kenaikan biaya sejumlah bahan baku yang harus mereka impor.

Martin Daum, Kepala eksekutif Daimler Truck,  mengatakan kepada media bahwa pemerintah perlu membantu membuat perbedaan dalam biaya bahan tambahan yang digunakan dalam kendaraan bertenaga baterai. "Tanpa subsidi apapun, harga truk (listrik) akan selalu lebih tinggi dari truk (mesin pembakaran internal)," katanya.

Ini akan menjadi kendala tersendiri bagi produsen pembuat truk guna memenuhi target pembuatan mobil ramah lingkungan, karena mesin pembakaran internal  dari truk dikenal memiliki polusi yang cukup tinggi.