JAKARTA - Hyundai Ioniq 5 sebelumnya sudah pernah dipakai untuk layanan taksi robot dan menjadi kendaraan otonom pilihan bagi beberapa perusahaan rintisan. Kini, mobil listrik tersebut bersiap mengemban peran yang jauh lebih besar, seiring Hyundai kian serius terjun langsung ke bisnis layanan taksi otonom.
Panggung CES 2026 menjadi momen penting bagi Motional, divisi kendaraan otonom yang berada di bawah payung Hyundai. Dalam pameran teknologi itu, Motional mengumumkan target peluncuran layanan taksi robot komersial di Las Vegas, Amerika Serikat, pada akhir tahun ini.
Layanan tersebut akan dijalankan bersama salah satu jaringan transportasi daring utama. Armada yang akan digunakan adalah Hyundai Ioniq 5 yang sudah dilengkapi paket teknologi lengkap mulai dari sensor, perangkat lunak, sistem AI, hingga perangkat keras yang dikembangkan bersama Hyundai.
Dengan langkah ini, Hyundai mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya membuat banyak pabrikan besar berdarah-darah dalam membangun divisi taksi otonom internal yang benar-benar berkelanjutan. Ambisi ini muncul di saat banyak pemain lain justru tumbang.
General Motors misalnya, menghentikan proyek Cruise setelah kerugian mencapai 10 miliar dolar AS. Sementara Ford dan Volkswagen menarik diri dari Argo AI ketika layanan taksi robot mereka tampak hampir memasuki tahap peluncuran.
Meski demikian, CEO Motional Laura Major menegaskan Hyundai memilih bermain dalam jangka panjang. Menurutnya, investasi pada otonomi bukan proyek sesaat, melainkan terkait erat dengan taruhan besar Hyundai di masa depan termasuk robot humanoid.
Dalam ajang CES, Hyundai juga membeberkan rencana menempatkan pekerja robot di pabrik-pabriknya pada dekade ini melalui anak usaha lainnya, Boston Dynamics.
“Saya pikir Hyundai berkomitmen pada robotika, otonomi, dan AI. Mereka melihatnya memiliki dampak yang mendalam pada dunia. Dan otonomi akan hadir di dunia pertama kali melalui taksi robot," ujar Major dilansir dari InsideEVs, Selasa, 13 Januari.
BACA JUGA:
Namun tantangan Motional jelas tidak ringan. Di saat Motional baru menargetkan ekspansi besar di satu kota, Waymo disebut menargetkan keberadaan di lebih dari dua lusin kota pada akhir 2026.
Persaingan teknologi kendaraan otonom pun semakin ketat, dipenuhi pemain yang lebih mapan dan sudah punya layanan berjalan. Pertanyaan besarnya, apakah Motional dapat benar-benar menonjol di tengah arena yang kompetitif ini?
Atau, dampak terbesar dari proyek ini justru akan terasa bukan dari layanan taksi robot, melainkan teknologi otonom yang kelak diturunkan ke mobil Hyundai generasi berikutnya. Menariknya, Motional sejatinya bukan lahir sebagai divisi Hyundai sepenuhnya.
Akar perusahaan ini berasal dari dua pemain awal industri kendaraan otonom, nuTonomy dan Ottomatika, yang masing-masing berkembang dari MIT dan Carnegie Mellon pada awal 2010-an. Keduanya kemudian diakuisisi oleh Delphi, yang pernah menjadi anak perusahaan General Motors dan berganti nama menjadi Aptiv.
Setelah itu, Aptiv menjalin kemitraan dengan Hyundai dalam usaha patungan kendaraan otonom senilai 4 miliar dolar AS. Dari sinilah nama Motional muncul dan sempat mencatat lebih dari 100.000 uji coba publik melalui Uber dan Lyft, dengan harapan layanan komersial bisa menyusul pada 2022.
Tetapi perjalanan itu tidak mulus. Pengujian masih berjalan dengan operator keselamatan manusia di belakang kemudi, namun kerugian membesar, Aptiv mengurangi porsi kepemilikannya, gelombang PHK terjadi, hingga operasi komersial dihentikan pada 2024.
Pada tahun berikutnya, Laura Major diangkat menjadi CEO setelah lama menjabat sebagai CTO. Ia mengakui salah satu penghambat terbesar Motional kala itu adalah biaya yang belum masuk akal untuk membangun bisnis yang benar-benar menguntungkan.
“Kami benar-benar menyadari bahwa meskipun kami dapat membuat sistem tanpa pengemudi yang aman, teknologi pada saat itu belum cukup hemat biaya untuk menciptakan bisnis yang menguntungkan,” ungkap Major.
Ia juga menepis anggapan bahwa sistem tanpa pengemudi bisa langsung diterapkan ke berbagai kota begitu selesai dikembangkan. Fase sulit itu sejalan dengan apa yang kerap disebut sebagai musim dingin otonom, periode ketika beberapa proyek AV bertumbangan usai hype besar dan investasi masif pada 2010-an.
Kini Motional percaya keadaan sudah berbeda. Kunci perubahan, kata Major, adalah ledakan kecerdasan buatan. Dengan pendekatan jaringan saraf, kendaraan otonom tidak perlu lagi dilatih ulang secara intensif untuk setiap kota yang menjadi target operasi.
“Itu menjadi momen ‘aha’ bagi kami,. Teknologi AI diyakini bisa membuat sistem lebih fleksibel, lebih mudah digeneralisasi, dan bergerak lebih mulus," ucapnya.
Meski demikian, Motional tak sepenuhnya meninggalkan pendekatan lama. Perusahaan masih menggabungkan perangkat lunak berbasis aturan yang menjadi fondasi robotika tradisional dengan model AI ujung ke ujung, demi menghadapi kasus-kasus sulit yang selama ini kerap membuat kendaraan otonom tersandung.