JAKARTA - Divisi performa tinggi Mercedes-AMG telah memasarkan C 63 S E Performance sejak tahun 2023 lalu demi meneruskan kesuksesan generasi sebelumnya.
Sayangnya, mobil ini kurang disambut baik pencinta Mercedes-AMG sebagai mobil performa tinggi karena pabrikan telah mengganti mesin 4,0 liter V8 yang sudah ada pada generasi sebelumnya menjadi 2,0 liter 4-silinder digabungkan sistem plug-in hybrid (PHEV).
Hal ini diakui oleh CEO Mercedes-AMG, Michael Schiebe mengakui konfigurasi baru mobil ini membuat C 63 kehilangan banyak peminat maupun penggemar mobil AMG.
“Kami melihat beberapa pelanggan setia kami mengalami kesulitan dengan konsep ini. Tentu saja, tidak diragukan lagi kami juga kehilangan beberapa pelanggan yang hanya menyukai V8,” kata Schiebe dikutip dari Car Magazine, Rabu, 22 Januari.
Meskipun demikian, Schiebe mengatakan tidak akan henti-hentinya menawarkan mobil dengan teknologi tersebut kepada para pelanggannya dan berjanji akan meningkatkan kemampuannya sesuai dengan karakteristik dari AMG.
“Kami telah melangkah jauh ke depan dengan teknologi ini, namun kami seharusnya menjelaskan teknologi ini lebih banyak kepada staf penjualan dan pelanggan kami. Kami akan terus melakukan hal tersebut dan terus meningkatkannya,” jelas Schiebe.
BACA JUGA:
Dari sisi performa, sebenarnya C 63 S E Performance tidaklah mengecewakan dengan berbekal mesin mesin 2,0 liter digabungkan dengan motor listrik berkekuatan 201 hp sehingga menghasilkan tenaga hingga 671 hp dan torsi puncak 1.020 Nm, sehingga dapat berakselerasi dari 0 ke 100 km/jam dalam 3,3 detik.
Untuk memuaskan para pelanggannya, Mercedes-AMG memberi sejumlah fitur seperti AMG Ride Control pada suspensi, dan 4Matic+ all-wheel drive dengan Drift Mode.
Mobil ini sempat diberi diskon besar di Jerman pada akhir tahun lalu yang awalnya dibanderol seharga 115.174 euro (Rp1,951 miliar) menjadi 105.960 euro atau setara Rp1,795 miliar.