Bagikan:

Donald Trump dan Xi Jinping akhirnya duduk satu meja di Beijing. Padahal Amerika Serikat dan China sedang bersaing keras.

Perang dagang belum selesai. Teknologi jadi rebutan. Chip jadi rebutan. Kecerdasan buatan jadi rebutan. Pangan dan rantai pasok juga begitu. Taiwan tetap menjadi bara yang sewaktu-waktu bisa menyala. Namun keduanya tetap bertemu.

Reuters melaporkan, China memberi sinyal penurunan tarif dan membuka akses pasar untuk produk pertanian Amerika Serikat setelah pertemuan itu. Ada juga pembicaraan tentang forum dagang dan investasi. Hasilnya belum final. Tapi arahnya terbaca. Suhu politik diturunkan. Urusan dagang tetap diselamatkan.

Begitulah politik dunia bekerja. Di depan publik, mereka bisa saling menekan. Di meja perundingan, hitungannya berubah. Bukan soal suka atau tidak suka. Yang dihitung adalah pasar, teknologi, pangan, industri, dan posisi tawar.

Dalam film The Godfather, Michael Corleone pernah berkata, “It’s not personal, Sonny. It’s strictly business.” Kasar. Tapi pas. Dunia hari ini bergerak dengan logika seperti itu. Tidak ada kawan abadi. Yang ada kepentingan yang terus dihitung ulang.

Indonesia bisa belajar banyak dari pertemuan dua pemimpin dunia itu. Pertemuan Trump dan Xi jangan hanya dibaca sebagai urusan dua negara besar. Di baliknya ada pesan. Negara yang ingin dihormati harus tahu mana yang tidak boleh dilepas.

Amerika menjaga pabriknya. China menjaga rantai pasok dan pasarnya. Banyak negara kini makin terang-terangan membereskan rumahnya sendiri sebelum bicara dunia.

Indonesia juga sedang bergerak ke arah itu. Dalam beberapa hari yang hampir bersamaan, Presiden Prabowo Subianto hadir dalam tiga agenda. Museum Marsinah. Koperasi Desa Merah Putih. Panen raya jagung.

Buruh. Desa. Jagung. Tiga kata itu terdengar sederhana. Tapi dari sanalah arah sebuah negara bisa dibaca.

Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk pada 16 Mei 2026, Prabowo menyebut Marsinah sebagai simbol perjuangan buruh. Pemerintah, melalui keterangan Istana, menempatkan museum itu untuk mengingatkan agar pembangunan ekonomi tidak melupakan orang yang bekerja di dalamnya.

Buruh tidak boleh dilupakan. Jika pekerja merasa ditinggalkan, keresahan akan menumpuk. Ketika meledak, semua orang ikut kena.

Setelah itu, Prabowo meresmikan 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Jawa Timur. Program ini ditempatkan sebagai upaya memperkuat ekonomi rakyat dari desa.

Koperasi mungkin terdengar kuno. Tidak semenarik startup. Tidak semeriah investasi raksasa. Tapi desa yang punya napas ekonomi sendiri akan lebih tahan saat harga pangan naik, distribusi tersendat, atau pasar global sedang goyah.

Lalu panen raya jagung di Tuban. Istana menyebut agenda itu bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.

Jagung memang terlihat biasa. Tapi pangan hari ini sudah menjadi alat tawar. Perang Ukraina menunjukkan bagaimana gandum bisa mengguncang banyak negara. Konflik Timur Tengah memperlihatkan bagaimana energi dan jalur logistik dapat berubah menjadi tekanan politik.

Maka ketika Trump dan Xi bicara tarif, pertanian, pasar, dan teknologi, Indonesia tidak cukup hanya menonton dari pinggir lapangan.

Indonesia punya nikel. Punya laut. Punya penduduk besar. Punya desa. Punya petani. Punya buruh. Punya pasar. Tapi semua itu masih bahan mentah jika tidak diolah menjadi kekuatan.

Di sinilah Bumi Manusia terasa relevan. Dalam novel Pramoedya Ananta Toer itu, Minke memperlihatkan kesadaran manusia pribumi yang pelan-pelan tumbuh. Martabat tidak datang sebagai hadiah. Ia harus diperjuangkan dengan pengetahuan, keberanian, dan kemampuan berdiri.

Indonesia boleh dekat dengan Amerika. Boleh bekerja sama dengan China. Boleh masuk forum mana pun. Oke-oke saja. Tapi jangan sampai hanya menjadi pasar bagi barang orang lain. Jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah. Jangan hanya menjadi tempat orang menanam modal, sementara teknologi dan nilai tambah tetap tinggal di luar.

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping menunjukkan negara besar tidak sungkan menjaga kepentingannya sendiri. Indonesia juga tidak perlu sungkan. Kawan bisa berganti. Peta dunia bisa berubah. Tapi rumah sendiri harus dibereskan dulu. Pertanyaannya tinggal satu. Indonesia ingin menentukan jalannya sendiri, atau terus berjalan mengikuti kepentingan orang lain?