JAKARTA - Arsenal gagal quadruple setelah harapan meraih trofi pertama musim ini tak kesampaian. Manchester City yang akhirnya memenangi Piala Liga Inggris atau Carabao Cup setelah menaklukkan Arsenal 2-0 di pertandingan final di Stadion Wembley, London, Minggu, 22 Maret 2026 malam WIB. Man City hanya butuh empat menit dari bek Nico O’Reilly untuk menghabisi Arsenal.
Target meraih empat trofi dalam satu musim gagal sudah. Arsenal terpaksa menunda asa mengangkat trofi hingga beberapa pekan ke depan. Ya, Arsenal sesungguhnya bisa melakukan pemanasan bagaimana menjadi juara bila mengalahkan Man City di Piala Liga Inggris.
Pasalnya, Arsenal sudah menunggu empat tahun untuk menjadi juara saat terakhir kali memenangi Piala FA 2020 di bawah asuhan Mikel Arteta. Mereka juga memenangi Community Shield, yaitu laga amal yang mempertemukan juara Premier League Inggris melawan pemenang Piala FA sekaligus menjadi pembuka kompetisi atau curtain raiser. Namun itu hanya laga amal yang kadang tidak diperhitungkan dan hanya sebagai referensi saja.
Arteta memang membawa The Gunners menjadi juara di Piala FA dan berharap bisa memenangi Piala Liga Inggris untuk kali ketiga. Hanya saja, usaha itu tak membuahkan hasil. Meski demikian, Arsenal masih menjaga asa meraih titel Premier League setelah menunggu selama 22 tahun.
Mereka terakhir kali menjadi juara liga pada 2004 saat masih ditangani manajer legendaris Arsene Wenger. Harapan itu bisa tercapai karena saat ini Arsenal memimpin klasemen dan sudah unggul tujuh poin dengan Man City yang menempati peringkat dua.
Hanya, Arsenal harus waspada. Keberhasilan The Cityzens memenangi Carabao Cup sudah pasti menebalkan kepercayaan diri pasukan Pep Guardiola untuk menghambat laju Arsenal.
Apalagi secara matematis, Man City yang memiliki poin 61 masih bisa mengejar Arsenal. Mereka masih menyimpan satu laga tunda melawan Crystal Palace. Selain itu, Man City mendapat kesempatan menjamu Arsenal sehingga berpeluang memangkas jarak poin dengan pesaingnya.
“Kami meraih kemenangan yang luar biasa. Menjadi juara dengan mengalahkan tim tersebut memang terasa istimewa,” kata Guardiola seperti dikutip france24.
“Ini memang sangat berarti. Memenangkan sebuah trofi itu memang sulit, terutama karena Arsenal adalah salah satu tim terbaik di Eropa seperti halnya Bayern Munchen dan Barcelona,” ujar manajer yang juga pernah menangani dua tim tersebut.
Keberhasilan menjadi juara setidaknya juga menyelamatkan Guardiola karena musim lalu dia gagal membawa Man City meraih satu pun trofi. Apalagi langkah mereka juga sudah kandas di Liga Champions. Namun Man City, seperti halnya Arsenal, masih punya harapan di Liga Premier dan Piala FA.
Guardiola yang sudah membawa Man City meraih 15 trofi menyatakan tetap akan di Etihad hingga tahun depan saat kontraknya selesai. Dirinya tak menyinggung mengenai kemungkinan kontraknya diperpanjang.
Hanya saja, Man City masih menghadapi tuntutan 115 kasus dan beredar kabar ada tuntutan yang membuat klub tersebut tidak lolos sehingga sanksi berat segera dijatuhkan.
Spekulasi menyebutkan hukuman berupa dicopotnya titel Premier League pada beberapa musim tertentu dengan pengurangan poin hingga degradasi ke division empat atau League Two. Bila disanksi kemungkinan bisa mempercepat kepergian Guardiola dari Man City.
Di pertandingan itu sendiri, Arteta sesungguhnya melakukan perjudian saat mempertahankan kiper kedua Kepa Arrizabalaga untuk berdiri di bawah mistar. Sementara, kompatriotnya dari Spanyol, David Raya, yang merupakan kiper pertama malah dibangkucadangkan.
Ironisnya Kepa justru kerap blunder saat berlaga di final Piala Liga Inggris. Saat masih membela Chelsea dan tampil di final Piala Liga 2019 melawan Liverpool, Kepa menolak diganti dalam adu penalti. Yang terjadi tak ada satu pun tendangan penalti yang bisa digagalkan Kepa alias semua eksekusi Liverpool selalu berhasil.
Begitu pula pada final 2022 saat kembali bertemu Liverpool. Terjadi adu penalti yang panjang dan dirinya tak pernah berhasil menahan eksekusi penalti. Ironisnya saat Kepa menjadi eksekutor, dia malah gagal dan Chelsea kalah adu penalti 11-10 lawan Liverpool.
Dengan catatan yang buruk di final Carabao Cup, Arteta malah memainkan Kepa menghadapi lawan kuat Man City. Namun Guardiola sendiri juga menurunkan kiper kedua, James Trafford yang menggantikan Gianluigi Donnarumma. Meski demikian, Trafford malah tampil percaya diri dan melakukan tiga penyelamatan gemilang. Sebaliknya, Kepa melakukan blunder yang menjadikan Man City mencetak gol sekaligus membuka kemenangan.
Arsenal sesungguhnya mendapat peluang untuk mencetak gol melalui Kai Havertz yang menopang striker Viktor Gyokeres. Namun umpan bagus dari Martin Zubimendi yang hendak dituntaskan lewat sepakan jarak dekat Havertz secara gemilang digagalkan Trafford.
BACA JUGA:
Dirinya berjibaku menahan tendangan itu. Begitu pula dia memakai kakinya untuk menahan tendangan rebound dari Bukayo Saka.
Arsenal juga berusaha memanfaatkan peluang melalui strategi andalan, yaitu bola mati, saat mendapat sepak pojok. Peluang bagus diperoleh Piero Hincapie yang menyambut sepak pojok Saka, tetapi dia gagal melakukannya. Setiap kali Arsenal mendapat sepak pojok, suporter Man City selalu berseru, “Boring, boring Arsenal.”
Di babak kedua, Man City langsung memainkan sepak bola ofensif. Mereka juga terlihat kesal karena Kepa tak mendapat kartu saat melakukan pelanggaran terhadap Jeremy Doku yang hendak menyambut umpan panjang Mathues Nunes.
Man City akhirnya memecah kebuntuan saat memasuki satu jam pertandingan. O Reilly sukses membobol gawang Arsenal akibat blunder Kepa di menit 60. Gol ini berawal dari umpan Rodri kepada Bernardo Silva yang kemudian melepaskan bola silang ke depan gawang.
Di situ ada O’Reilly dan berdiri di dekat gawang dan Kepa pun sudah melompat untuk menangkap bola. Dan ini menjadi blunder karena kiper Spanyol itu justru tidak meninju bola. Apalagi bola lepas dari tangkapannya. O’Reilly pun mendapat bola gampang dan tinggal menyundulnya ke gawang yang kosong.
Man City pun unggul 1-0. Saat pemain Arsenal belum hilang keterkejutannya atas gol itu, O’Reilly lagi-lagi sudah membobol gawang Kepa hanya berselang empat menit.
Ironisnya, gol itu juga berawal dari skenario yang sangat mirip. Namun Nunes yang memberikan umpan silang ke depan gawang dan O’Reilly berhasil mengungguli Saka untuk menyundul bola yang menaklukkan Kepa.
Gol kedua dari bek timnas Inggris ini langsung disambut suka-cita oleh Guardiola. Hanya selebrasi pria Spanyol ini dinilai berlebihan sehingga dia mendapat kartu kuning.
Namun Guardiola tak peduli karena Man City akhirnya menang 2-0 lewat brace anak muda berusia 21 ini. Guardiola juga menorehkan prestasi dengan memenangi Carabao Cup untuk kelima kalinya bersama Man City.