BANJARMASIN — Ketua Umum Pengurus Besar Lembaga Karate-do Indonesia (PB Lemkari), H. Sahbirin Noor, menegaskan pentingnya etika dan disiplin dalam pembinaan karate, termasuk dalam perwasitan.
Pernyataan itu disampaikan di tengah dinamika organisasi Lemkari yang sempat diterpa polemik hukum terkait legalitas lambang.
Penegasan tersebut disampaikan Sahbirin Noor, yang akrab disapa Paman Birin, saat silaturahmi dan latihan bersama PB Lemkari di Kiram Park, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu, 11 Januari 2026.
"Juara yang diraih dengan kecurangan bukan kebanggaan. Etika dan disiplin harus ditegakkan, termasuk dalam perwasitan," tutur Paman Birin, pemegang sabuk DAN VIII Karate.
BACA JUGA:
Ia juga menyinggung dua kali ujian besar yang dialami Lemkari terkait pengakuan logo organisasi. Menurut Paman Birin, keputusan Kementerian Hukum dan HAM tetap mengakui Lemkari yang didirikan Seiko Anton Lesiangi sebagai pemilik sah.
"Kebenaran akan datang pada waktunya. Kita tidak pernah menyerah meski diterpa badai," ujar Paman Birin dalam keterangan tertulis, Senin, 12 Januari 2026.
Latihan bersama tersebut dipimpin Ketua Dewan Guru PB Lemkari Sihang Erwin Rofik, didampingi Sihang Herman Iwan Linelejan, Sihang Faris, dan Sensei Ling Ling. Sekitar 100 karateka mengikuti pemantapan teknik dasar kihon dan materi kata gojushiosho.
Sihang Erwin menilai latihan bersama penting untuk meluruskan teknik dasar karate yang selama ini masih kerap kurang teliti. Ia menegaskan Lemkari menganut mazhab shotokan yang menuntut ketepatan gerak dan disiplin tinggi.
"Latihan tidak cukup di dojo. Harus dilakukan terus-menerus, termasuk di rumah. Atlet juga wajib memahami aturan perwasitan internasional jika ingin menembus level dunia," kata Erwin.
Latihan bersama juga dihadiri Jeanni Z. Monoarfa, istri pendiri Lemkari, Sekjen PB Lemkari Sensei Ragil, Sihang Agung, serta jajaran MSH Lemkari Kalimantan Selatan.