JAKARTA - Bayern Munchen sudah mengirim sinyal kepada semua peserta Liga Champions bahwa mereka ialah favorit teratas menjadi juara.
Kemenangan atas Paris Saint-Germain di Parc des Princes pada Rabu, 5 November 2025, dini hari WIB, bisa menggambarkan mengapa mereka difavoritkan.
Raksasa Bundesliga tersebut sekarang akan menjadi target para pesaing untuk dikalahkan dalam perjalanan menuju final pada Mei 2026 di Budapest.
Die Bayern kini menyandang label tim yang ditakuti. Mereka pulang dari Paris dengan kemenangan 2-1 meski bermain dengan 10 pemain sebelum babak pertama berakhir.
Bintang kemenangan mereka, Luis Diaz, mencetak gol sekaligus harus menerima kartu merah akibat tekel keras kepada Achraf Hakimi.
BACA JUGA:
Bermain dengan 10 pemain melawan PSG--juara bertahan Liga Champions--Bayern Munchen tampil mendominasi dan gemilang di babak pertama. Lalu, mereka bisa mengatasi perlawanan sengit di babak kedua.
Semua itu diperkuat oleh kegigihan dan kepahlawanan kiper Manuel Neuer--yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-40 pada Maret 2026--dan keteguhan hati Harry Kane, yang bertahan dengan tekad sekuat rekan setimnya untuk memastikan Bayern Munchen memperpanjang awal musim yang luar biasa menjadi 16 kemenangan beruntun di semua ajang.
"Hal utama bagi saya, saya sering mengatakannya, ialah ketika ada sensasi, saya memberi tahu para pemain saya, jangan percaya."
"Kalian tidak sehebat itu. Jika kalian tampil buruk, kalian juga tidak seburuk itu. Kami telah menang 16 kali dan besok kembali ke nol."
"Kami harus menang di pertandingan berikutnya. Namun, bertahan dengan 10 pemain ialah bukti lain yang harus kami bawa sepanjang musim," kata pelatih Bayern Munchen, Vincent Kompany, selepas laga.
Bayern Munchen sanggup menghabisi serangan balik PSG yang cepat, mencetak dua gol melalui Diaz, yang direkrut seharga 65,5 juta pound dari Liverpool pada musim panas lalu.
Cara pasukan Kompany mendominasi PSG cukup mengesankan, terutama karena juara Ligue 1 itu hanya bermain tanpa Desire Doue yang cedera dan mencadangkan Joao Neves dari tim terkuat mereka di awal pertandingan.
Namun, juara Liga Champions enam kali ini pantas menyandang status sebagai favorit juara karena mereka menunjukkan kemampuan menguasai kedua sisi permainan, yaitu menyerang dan bertahan.
Pada babak pertama, Kane, Diaz, dan Michael Olise memberi PSG siksaan yang sama seperti yang ditimpakan Ousmane Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, dan Doue kepada para korban klub Perancis tersebut dalam perjalanan mereka meraih kejayaan Liga Champions musim lalu.
Trio gelandang Serge Gnabry, Aleksandar Pavlovic, dan Joshua Kimmich, mengimbangi Vitinha, Fabian Ruiz, dan Warren Zaire-Emery di jantung susunan pemain PSG.
Gol-gol Diaz--pada menit keempat dan ke-32--cukup mencerminkan kendali Bayern Munchen meskipun gol Dembele dianulir karena offside, beberapa saat sebelum cedera hamstring memaksanya keluar lapangan.
Namun, kartu merah Diaz yang pada akhirnya memungkinkan Bayern Munchen untuk menunjukkan sisi lain dari permainan mereka--sisi yang jarang mereka tunjukkan di Jerman--dalam hal kemampuan menahan tekanan berat dari lawan yang berbahaya.
Mereka melakukannya karena para pemain Kompany tak hanya bertahan sebagai tim, tetapi juga kontribusi Neuer dan bek tengah Dayot Upamecano serta Jonathan Tah.
Semua orang akan menyadari kekuatan dan ancaman serangan Die Bayern. Setelah berhadapan langsung dengan PSG di Paris dan keluar sebagai pemenang, kini tak seorang pun dapat mempertanyakan tekad Bayern Munchen dan kemampuanya untuk bertahan dari serangan terus-menerus.
Mereka memiliki ancaman gol dari Kane, Olise, dan Diaz, dan kekuatan pertahanan untuk melaju jauh di turnamen musim ini. Musim ini masih awal, tetapi Bayern Munchen sekuat tim mana pun di dunia.
Fakta bahwa mereka melakukannya melawan PSG, berarti mereka dapat dengan tepat mengatakan telah menghadapi tim terbaik dan menang.
Dominasi domestik Bayern Munchen memang mudah diabaikan mengingat mereka telah dinobatkan sebagai juara Bundesliga 12 kali dalam 13 musim terakhir.
Jadi, rentetan sembilan kemenangan beruntun mereka di liga sejauh musim ini, termasuk kemenangan melawan Borussia Dortmund dan Bayer Leverkusen, bisa dibilang impresif.
Namun, hal itu belum cukup untuk disebut sebagai tim terbaik di Eropa. Liga Champions ialah tolok ukur yang jauh lebih andal dan Bayern Munchen kini boleh berbangga karena menjadi favorit teratas.
Soalnya, mereka mengawali musim dengan kemenangan 3-1 melawan Chelsea (juara Piala Dunia Antarklub 2025) pada laga pertama dan kini telah mengalahkan PSG sehingga mereka kini telah meraih kemenangan melawan juara dunia serta Eropa.
Hanya saja, tantangan meraih predikat terbaik di Eropa belum berhenti. Masiha ada tim-tim seperti Arsenal, Liverpool, Real Madrid, dan Manchester City yang kemungkinan bisa mereka hadapi di Liga Champions. Tim-tim tersebut memang memiliki pemain yang mumpuni untuk mengalahkan Bayern Munchen.
Karena itu, Vincent Kompany tak mau jemawa. Ia menegaskan akan mempertahankan kerja sama tim yang padu untuk menghadapi setiap pertandingan di depannya.
"Kerja keraslah yang membuahkan hasil. Ini merangkum babak pertama dan babak kedua (melawan PSG)."
"Anda harus memenangi duel dan merebut bola kedua. Anda tidak akan pernah bisa meniadakan ancaman PSG, mereka sangat aktif dan memiliki ritme penguasaan bola yang tinggi. Mulai besok, semuanya kembali ke nol."
"Juara Liga Champions belum ditentukan sekarang. Ini tentang lolos ke babak berikutnya, dari sana, dan berada dalam performa seperti ini di akhir musim," kata Kompany.