JAKARTA - UFC 320 yang akan digelar pada Sabtu, 4 Oktober 2025 di T-Mobile Arena, Las Vegas, siap menghadirkan duel bersejarah. Selain partai utama perebutan gelar light heavyweight antara Magomed Ankalaev vs Alex Pereira, ada pula co-main event yang menyedot perhatian: juara bantamweight Merab Dvalishvili mempertahankan sabuknya melawan penantang nomor satu, Cory Sandhagen.
Meski banyak yang memfavoritkan Dvalishvili atas Sandhagen, namun petarung asal Colorado itu yakin bisa mengejutkan dunia. Dalam wawancara bersama Shak MMA, Sandhagen menegaskan ia sudah menemukan level baru setelah berlatih bersama pelatih Trevor Wittman.
“Dia menang lawan Umar karena Umar kecapekan. Aku nggak pernah capek. Dia menang lawan O’Malley karena O’Malley terlalu hati-hati dan lambat bangkit. Aku nggak pernah bisa didominasi wrestling. Kalau aku jatuh, aku langsung berdiri,” ucap Sandhagen.
Ia bahkan menyindir bahwa satu-satunya cara Merab bisa menang adalah jika dirinya jatuh sakit. “Dia cuma bisa berharap aku kena flu atau infeksi minggu ini. Karena sekarang aku dalam kondisi terbaik dalam hidupku, wrestling lebih tajam dari sebelumnya. Aku nggak lihat dia bisa menang dengan cara biasanya,” tambahnya.
BACA JUGA:
Dominasi Merab
Komentator UFC, E. Spencer Kyte, bersama pelatih Tyson Chartier, menekankan betapa istimewanya perjalanan Dvalishvili. Rangkaian kemenangannya atas nama-nama besar seperti Jose Aldo, Petr Yan, Henry Cejudo, Sean O’Malley, hingga Umar Nurmagomedov dianggap sebagai salah satu run terbaik sepanjang sejarah UFC. “Apakah ada bantamweight lain yang punya catatan sekuat ini? Bahkan kalau dibanding Jon Jones di masa awal, Merab tetap luar biasa,” kata Chartier.
Keunggulan utama Merab, menurut Chartier, ada pada kombinasi cardio yang tak ada habisnya, wrestling nonstop, dan kepercayaan diri yang makin tinggi. Ia juga mulai dikenal sebagai petarung yang tak lagi sekadar mengontrol, tapi aktif mencari penyelesaian. “Satu hal yang unik, dia bisa bikin lawan frustasi karena terus maju, terus nempel, dan tidak memberi ruang,” lanjutnya.
Chartier menyebut Sandhagen tidak bisa hanya mengandalkan striking. “Kalau dia cuma menunggu, dia pasti didominasi. Satu-satunya cara adalah menyerang balik dengan wrestling juga. Buat Merab sibuk bertahan, ciptakan scramble, dan serang dari situ. Cory punya jiu-jitsu bagus, tapi dia hanya bisa memanfaatkan itu kalau dia berani masuk ke wrestling offensif,” katanya.
Kyte menambahkan bahwa gaya khas Sandhagen dengan serangan lutut, uppercut, dan tendangan ke tengah bisa jadi senjata ampuh memperlambat Merab. “Kalau Merab maju sembrono, dia bisa kena lutut langsung ke wajah. Itu bikin dia harus berpikir ulang untuk asal terjang,” ujarnya.
Hal lain yang menarik perhatian adalah perubahan gaya Merab yang kini disebut “dilatih untuk jadi finisher.” Chartier mengingatkan bahwa obsesi ini bisa berbahaya. “Kadang ketika petarung mulai tergoda untuk tampil indah, mereka keluar dari kekuatan utamanya. Kita lihat apakah Merab akan tetap disiplin atau justru ambil risiko berlebih,” ucapnya.
Mental dan Momentum
Pertarungan ini juga akan sangat ditentukan oleh siapa yang bisa menguasai ronde-ronde awal. Jika Merab unggul cepat, bagaimana Sandhagen merespons? Sebaliknya, bila Sandhagen mampu mencuri dua ronde pertama, apakah kepercayaan diri Merab bakal goyah? “Semua orang bisa jadi palu, tapi saat berubah jadi paku, hanya juara sejati yang bisa kembali jadi palu. Itu perbedaan besar antara elite dan petarung biasa,” kata Chartier.
Pertarungan UFC 320 ini ibarat adu mesin yang tak bisa mogok melawan seniman striking penuh improvisasi. Dvalishvili dengan cardio dan wrestling tanpa henti, versus Sandhagen yang punya kreativitas, ketenangan, dan kini juga percaya diri penuh.
Apakah “The Machine” akan terus membangun rekor emasnya dan memperkuat klaim sebagai bantamweight terhebat sepanjang masa? Ataukah Cory Sandhagen akan mematahkan dominasi dengan strategi baru dan mencuri sabuk dari raja cardio UFC?