JAKARTA – Alex “Poatan” Pereira akan kembali naik ke Octagon dengan misi besar: merebut kembali sabuk juara light heavyweight UFC yang sempat lepas dari tangannya. Tujuh bulan lalu, Pereira harus mengakui keunggulan Magomed Ankalaev di UFC 313. Kini, pada Sabtu malam 4 Oktober di T-Mobile Arena, Las Vegas, keduanya kembali dipertemukan dalam laga utama UFC 320.
Kekalahan dari Ankalaev menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam karier MMA Pereira. Sebelum itu, ia mencatatkan rekor gemilang dengan sembilan kemenangan dari sebelas penampilan di UFC, tujuh di antaranya lewat knockout. Ia bahkan sempat membuat sejarah dengan tiga kali mempertahankan gelar dalam waktu 175 hari, rekor tercepat di sepanjang sejarah promosi. Gelar Fighter of the Year 2024 pun jatuh ke tangannya.
Namun semua itu sirna di UFC 313. Ankalaev, yang dikenal sebagai grappler tangguh, bukan hanya menggagalkan ancaman knockout Pereira, tapi juga berhasil mengalahkannya di striking, sesuatu yang jarang sekali terjadi. “Poatan” mampu menggagalkan 12 upaya takedown, tetapi terlihat pasif dan kurang bertenaga dalam duel yang akhirnya dimenangkan Ankalaev lewat keputusan bulat.
BACA JUGA:
Menjelang pertarungan ulang ini, Pereira akhirnya buka suara soal performanya yang dianggap aneh di laga pertama. Dalam wawancara dengan CBS Sports, ia mengaku hanya bisa tampil di sekitar 40 persen dari kemampuan terbaiknya. “Sejujurnya, saya hanya sekitar 40 persen di pertarungan itu, malam itu,” kata Pereira. “Dan jelas kali ini akan jauh lebih banyak. Jika saya hanya 50 persen, tambahan 10 persen saja sudah akan membuat perbedaan besar. Saya akan meninggalkan Octagon tanpa keraguan di mata siapa pun.”
Meski begitu, Pereira menolak menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya mengganggu kondisinya waktu itu. “Menghadapi kekalahan itu tidak menyenangkan, tapi kalau saya gabungkan semua hal yang terjadi pada saya – dan saya tidak akan membicarakannya sekarang – saya justru bersyukur masih bisa bertarung,” ujarnya. “Tentu saja saya tidak senang kalah, tapi dengan potensi saya dan kondisi saya saat itu, saya bahkan terkejut masih bisa masuk ke Octagon.”
Pertarungan ini juga diwarnai drama di luar Octagon. Ankalaev sempat menuding Pereira menggunakan zat tertentu agar kulitnya licin dan sulit digrapple. Tuduhan “grease” itu langsung ditepis santai oleh mantan juara dua divisi UFC tersebut. “Bagi saya, [tuduhan itu] bukan masalah. Saya tetap tenang,” kata Pereira. “Saya pikir dia tidak suka karena saya sudah membuktikan bahwa dia tidak sebagus itu. Saya seorang striker dan dia seorang grappler. Seharusnya dia bisa menjatuhkan saya, tapi saya tunjukkan ke semua orang bahwa dia tidak sehebat yang dibicarakan.”
Pereira juga menegaskan dirinya tidak menyimpan kebencian pribadi terhadap lawan. “Bagi saya, tidak ada bedanya soal punya masalah pribadi dengan lawan atau tidak. Saya selalu tenang, normal. Dialah yang terlihat gugup dan takut. Dia yang lebih terpengaruh,” ujarnya menyinggung sikap Ankalaev saat konferensi pers.
Bagi Pereira, UFC 320 mungkin juga menjadi penentu masa depannya. Ia sudah beberapa kali memberi isyarat soal kemungkinan naik kelas ke heavyweight jika tubuhnya semakin sulit menahan batas 205 pound.
“Ketika saya masuk UFC di kelas menengah, fokus saya adalah menjadi juara. Lalu tubuh saya berubah… Ketika saya pindah ke light heavyweight, fokus saya tetap menjadi juara. Kalau tubuh saya mengatakan harus naik ke heavyweight, fokus saya juga akan sama: menjadi juara,” ujarnya.
Dengan segala drama, cerita penebusan, dan potensi sejarah, UFC 320 dipastikan menjadi salah satu event terbesar tahun ini. Bagi Pereira, kemenangan bukan hanya soal sabuk, tapi juga harga diri, reputasi, dan warisan yang ingin ia tinggalkan di UFC.
Selain rematch panas di partai utama, UFC 320 juga menyajikan duel lain yang tidak kalah seru. Di co-main event, juara bantamweight Merab Dvalishvili akan berhadapan dengan Cory Sandhagen. Dvalishvili datang dengan rekor impresif, termasuk kemenangan atas Sean O’Malley dan Umar Nurmagomedov. Jika mampu mengalahkan Sandhagen, ia akan memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya di divisi bantamweight. Sandhagen sendiri sudah lama digadang-gadang sebagai calon juara, dan pertarungan ini menjadi kesempatan emas untuk membuktikan diri.
Di partai pendukung utama, mantan juara light heavyweight Jiri Prochazka akan menghadapi Khalil Rountree Jr. Prochazka sebelumnya dua kali kalah KO dari Pereira dalam perebutan sabuk, namun tetap berbahaya dengan gaya bertarung liar khasnya. Rountree juga bukan lawan mudah. Ia datang dengan catatan enam kemenangan dari tujuh laga terakhir, empat di antaranya lewat knockout brutal.