JAKARTA - Penyerang Barcelona, Raphinha, telah mengungkapkan kemarahannya pada kurangnya jam bermain di bawah asuhan Xavi Hernandez. Dia merasa mantan pelatihnya tidak pernah menunjukkan kepercayaan yang nyata kepadanya.
Penyerang 28 tahun itu muncul sebagai kandidat Ballon d'Or tahun ini, tetapi ia sering kali memainkan peran kecil di bawah asuhan Xavi setelah bergabung dengan Barcelona dari Leeds United pada 2022.
Padahal, pemain asal Brasil itu membantu klub Catalan tersebut memenangi gelar La Liga pada 2023.
Ia sering ditarik keluar di awal pertandingan atau bahkan dicadangkan karena persaingan untuk mendapatkan tempat awal di sayap dari, yang saat itu dihuni Ousmane Dembele, Lamine Yamal, dan Ferran Torres.
"Saya merasa staf pelatih tidak memiliki kepercayaan kepada saya. Saat tidak ada (pemain) lain, saya ada di sana dan bermain selama 90 menit."
"Saya memberikan semua yang saya bisa dan memberi dampak pada permainan, tetapi saat ada (pemain) lain yang bisa bermain menggantikan saya, mereka memilihnya tanpa berpikir panjang."
BACA JUGA:
"Kadang, saya melakukan segalanya selama 60 menit dan mereka akan menarik saya keluar. Ada video terkenal yang memperlihatkan saya meledak saat mencapai bangku cadangan dan meninjunya."
"Saya pikir itu adalah pertandingan melawan Manchester United (di Liga Europa tahun 2023). Saya bermain dengan sangat baik."
"Saya mencetak gol dan membuat assist. Saya pikir skornya 2-2 dan mereka menarik saya keluar."
"Saya baru saja menciptakan peluang yang sangat bagus. Saya merasa baik dan bermain dengan baik."
"Saya adalah pemain pertama yang ditarik keluar. Saya tidak dapat mempercayainya," kata Raphinha dalam sebuah wawancara dengan saluran YouTube Isabela Pagliari.
Selama dua musim di bawah asuhan Xavi, Raphinha tampil sebanyak 87 kali meskipun 27 kali tampil sebagai pemain pengganti. Dia hanya bermain selama 90 menit dalam delapan kesempatan.
Pemain asal Brasil itu mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Xavi, yang sedang menjalani masa cuti panjang sejak meninggalkan Barcelona tahun lalu, tetapi tidak ada yang berubah pikiran.
"Saya mencoba untuk memperbaiki situasi. Saya telah beberapa kali berbicara dengan (Xavi), tetapi saya melihat bahwa itu tidak membuat perbedaan. Ia punya cara berpikirnya sendiri," tuturnya.
Raphinha kemudian menunjukkan kemampuannya sejak Xavi pergi, dengan penampilannya musim ini membuat Barcelona terus memburu treble hingga akhir musim.
Sementara itu, ia juga disebut-sebut sebagai calon pemenang Ballon d'Or.
Setelah mencetak 20 gol dalam dua tahun pertamanya bersama Blaugrana, ia telah mencetak 31 gol musim ini di bawah pelatih baru Hansi Flick, bermain di posisi yang sedikit berbeda, yaitu di sayap kiri.
Gol-gol tersebut tercipta dari 52 penampilan, 48 di antaranya sebagai starter. Dia pun bermain penuh selama 90 menit dalam 33 kesempatan menjelang leg kedua semifinal Liga Champions melawan Inter Milan di Giuseppe Meazza.
"Ia adalah seseorang yang memerhatikan semua pemain, mereka yang bermain, dan mereka yang tidak bermain," kata Raphinha tentang pendekatan yang digunakan oleh Flick.
"Saya benar-benar memerhatikan itu ketika Vitor Roque pergi. Saya benar-benar tersentuh oleh cara ia menangani itu."
"Ia lebih peduli daripada Vitor tentang apa yang terjadi. Dia pergi untuk berbicara dengan klub untuk mengetahui semua tentang situasinya dan dia berbicara dengan (Roque)," ujarnya lagi.