Bagikan:

JAKARTA - Liverpool tersingkir di Liga Europa meski menang 1-0 atas Atalanta di laga kedua perempat final di Stadion Gewiss, Jumat, 19 April 2024 dini hari WIB. Atalanta yang lolos ke semifinal dengan agregat 3-1.

Keajaiban Istanbul di final Liga Champions 2005 dan semifinal Liga Champions 2019 gagal terulang. Peristiwa heroik dari pasukan The Reds yang tertinggal tetapi kemudian mampu membalikkan keadaan

Pada final di Istanbul melawan AC Milan, Liverpool langsung tertinggal 3-0 di babak pertama.

Hanya saja, Steven Gerrard dkk berhasil menyamakan skor menjadi 3-3 di babak kedua. Mereka kemudian tampil sebagai juara setelah menang adu penalti.

Pada semifinal 2019 Liverpool bertemu Barcelona. Pada leg pertama, Liverpool yang sudah ditangani Jurgen Klopp kalah 3-0 di Camp Nou.

Namun pada laga kedua di Anfield, Liverpool yang kehilangan Mohamed Salah malah menang 4-0. Seperti di 2005, Liverpool kemudian tampil sebagai juara.

Situasi berbeda saat Liverpool melakoni laga kedua perempat final kali ini. Liverpool sudah kalah 3-0 di kandang sendiri. Ini menjadi kejutan karena Atalanta mampu menaklukkan tuan rumah dengan skor cukup besar.

Hasil itu menjadikan Klopp realistis. Menurut dia sulit bagi Liverpool mengulang sukses 2019 karena situasinya memang tidak sama. Mereka berhasil membalikkan keadaan karena laga kedua di Anfield.

Meski demikian, pada duel di kandang Atalanta, Virgil van Dijk dkk nyaris mengulangi skenario itu. Liverpool mendapat hadiah penalti saat laga baru berjalan tujuh menit.

Penalti diberikan setelah bola silang dari Trent Alexander-Arnold mengenai lengan Matteo Ruggeri. Wasit sempat meninjau insiden lewat VAR. Hasilnya, Ruggeri dinyatakan menyentuh bola dan wasit menunjuk titik putih.

Eksekusi penalti dituntaskan oleh Salah setelah tendangannya mengecoh kiper Juan Musso.

Pada laga 2019, Divock Origi yang menjalankan eksekusi penalti. Setelah gol Origi, pemain Liverpool kian bersemangat mengejar defisit gol. Hasilnya, The Kop mampu menambah tiga gol lagi.

Namun kini Liverpool gagal melakukannya. Mereka mengalami kesulitan menembus pertahanan kokoh Atalanta. Pelatih Gian Piero Gasperini menerapkan strategi bertahan yang cukup bagus dan solid.

Tidak ada tambahan gol dari Liverpool sampai akhir laga. Skor 1-0 itu bertahan sampai peluit akhir dibunyikan. Atalanta pun lolos ke semifinal setelah menang agregat 3-1. Di empat besar, La Dea bertemu Marseille yang menyingkirkan Benfica.

"Kami bangga bisa menyingkirkan tim besar yang ditangani manajer besar. Kami bermain luar biasa setelah penalti. Kami pun seharusnya bisa mencetak gol seperti di laga pertama di Liverpool," kata Gasperini.

"Kini, kami fokus pada laga berikutnya," ujar dia lagi.