Rekam Jejak Mendiang Hero Tito: Sang Juara Tinju Dunia yang Mandiri
Mendiang Hero Tito. (Instagram/@herotheliontito)

Bagikan:


JAKARTA - Kabar duka datang dari dunia tinju Indonesia. Hero Tito tutup usia setelah kritis pasca duel di Holywings Jakarta Minggu, 27 Februari lalu.

Hero Tito mengalami cedera pembengkakan otak setelah mendapat pukulan telak dari James Mokoginta di atas ring Holywings Sport Show Boxing. Hero tumbang pada ronde ke-7 akibat uppercut yang mendarat telak di rahang.

Sosok Hero Tito memang tak setenar Daud Yordan atau Chris John. Namun, namanya cukup familier di kalangan pencinta tinju.

Hero Tito merupakan petinju asal Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, yang mampu menembus ring tinju internasional dengan perjuangan pribadinya.

Dia pernah menyandang gelar juara dunia versi World Professional Boxing Federation (WPBF). Pria 36 tahun itu memegang sabuk juara dunia WPBF kelas ringan 61,2 kg.

Gelar itu diamankannya sejak menjatuhkan petinju asal Thailand, Thongchai Kunram. Keduanya berduel dalam Kejuaraan Tinju Dunia Sabuk Emas Xanana 2016, di Lospalos Gymnasium, Timor Leste pada November 2016 lalu.

Hero Tito Dikenal Mandiri

Sosok bapak dua anak itu dinilai mandiri. Hero Tito bahkan merangkai sendiri porsi latihannya untuk menghadapi sebuah pertarungan.

Bila sudah mendapat kesepakatan kontrak pertandingan di luar, Hero Tito tak segan menjalani persiapan mandiri. Bahkan sampai proses mendapatkan tiket penerbangan dan visa, dilakukannya sendiri.

Berangkat tanpa pendamping untuk bertandingn di luar negeri bukan hal baru bagi Hero Tito. Ia pernah berangkat ke Korea Selatan seorang diri saat akan bertarung melawan petinju Doong Hoon Yook di Busan, pada 2016.

Awal Karier Tinju Hero Tito

Hero Tito mulai menekuni dunia tinju sejak usia 12 tahun. Mendapatkan pengaruh dari ayah dan kakaknya, Hero Tito muda mengawali prestasi di tinju amatir di ajang kejuaraan daerah.

Medali emas di kelas Layang Ringan 45 Kg jadi salah satu kebangaannya. Karier tinju amatir Hero Tito selanjutnya banyak dilalui di Kalimantan, sebelum akhirnya pulang ke Malang dan memilih menempuh jalur profesional.

Siapa sangka, Hero Tito yang berstatus juara dunia pernah merasakan menjadi tukang parkir dan satpam. Itu dilakukan demi memenuhi perekonomian keluarga.

Selamat jalan, Hero Tito!