Bagikan:

JAKARTA - Produser musik asal Amerika Serikat sekaligus kolaborator setia Taylor Swift, Jack Antonoff, melontarkan kritik pedas terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri musik.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pemenang 13 Grammy itu secara terang-terangan menyebut mereka yang menggunakan AI untuk menciptakan karya seni sebagai "pelacur tak bertuhan" yang hanya merusak esensi kreativitas.

Antonoff menegaskan, proses menciptakan musik bukan sekadar memproduksi suara, melainkan sebuah ritual yang melibatkan jiwa, emosi, dan dedikasi fisik yang tidak bisa digantikan oleh algoritma.

Menurutnya, upaya mengoptimasi proses kreatif agar menjadi lebih cepat dan efisien justru menghilangkan tujuan utama dari mengapa seseorang terdorong untuk bermusik.

Pria 42 tahun itu memandang skeptis tren teknologi yang berusaha memangkas proses penulisan lagu, rekaman, hingga penampilan panggung yang seharusnya bersifat sakral.

"Apa yang kita lakukan telah menjadi ritual kuno. Anda tidak harus menulis musik, Anda tidak harus merekamnya, dan Anda tidak harus membawa band untuk memainkannya,” kata Antonoff, mengutip keterangan unggahannya, Jumat, 15 Mei.

“Namun bagi kami, ide untuk mengoptimalkan apa yang kami lakukan adalah kegagalan total dalam memahami poin utama dari apa yang memaksa kami melakukan ini sejak awal," tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya dan rekan-rekan musisi lain tidak pernah mencari cara agar pekerjaan mereka menjadi lebih cepat atau lebih mudah, karena nilai sesungguhnya terletak pada keajaiban dan ketidakpastian proses tersebut.

Pentolan Bleachers itu juga memberikan pesan menohok bagi para "aktor buruk" yang mencoba mengeksploitasi seni demi keuntungan instan melalui teknologi AI. Antonoff menganggap fenomena musik AI hanyalah sebuah "jalan pintas aneh" yang pada akhirnya akan menyaring siapa seniman yang benar-benar jujur dan siapa yang hanya memproduksi sampah digital.

Ia memprediksi, generasi mendatang tetap akan kembali pada cara-cara konvensional yang ia sebut sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan melalui karya tangan manusia.

"Jadi, bagi semua orang yang begitu bersemangat dengan cara-cara baru untuk memalsukan pembuatan seni, silakan saja berkendara langsung ke tebing itu. Kami benar-benar senang melihat Anda pergi. Generasi mendatang akan terlibat dalam ritual kuno menulis, merekam, dan tampil sebagaimana hal itu datang kepada kita dari Tuhan,” tutur Antonoff.

“Tidak ada yang lebih memalukan daripada menganggap ada cara untuk mengoptimalkan proses suci tersebut," pungkasnya.