Bagikan:

JAKARTA - Penyanyi R&B asal Amerika Serikat, SZA, menyatakan kegelisahannya terhadap masifnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri musik.

Pelantun “Kill Bill” itu secara terbuka menyebut dirinya merasa sedang berada dalam “peperangan" melawan teknologi tersebut, yang menurutnya memberikan dampak negatif secara tidak proporsional terhadap ekosistem musik.

Keresahan SZA bukan tanpa alasan. Dalam wawancara terbarunya dengan i-D Magazine, ia menyoroti bagaimana AI digunakan untuk mengeksploitasi karya tanpa memberikan hak yang semestinya.

SZA merasa tersinggung dengan jenis musik kulit hitam yang dihasilkan oleh algoritma, yang ia nilai hanya mereproduksi stereotip dangkal.

"Saya merasa seperti sedang berperang karena AI. Hal ini terjadi secara tidak proporsional pada musik kulit hitam. Mengapa saya mendengar cover AI dari Olivia Dean, padahal dia baru saja muncul? Dia bahkan belum bisa mengumpulkan hasil streaming-nya sendiri,” kata SZA.

“Saya juga sangat tersinggung dengan jenis musik kulit hitam yang keluar dari AI. Musik perjuangan yang aneh dan stereotip,” sambungnya.

Penyanyi dengan nama asli Solána Imani Rowe itu juga menekankan, musuh utamanya saat ini bukanlah sesama penyanyi pop atau R&B, melainkan gelombang "anti-intelektualisme" yang dibawa oleh kemudahan AI.

Menurutnya, pengalaman manusia yang kompleks dan emosional tidak akan pernah bisa ditiru oleh perintah prompt komputer mana pun.

Tak hanya soal kreativitas, sebelumnya SZA juga menyoroti dampak lingkungan dan sosial yang mengerikan dari infrastruktur AI. Ia mendesak penggemarnya untuk meneliti tentang "rasisme lingkungan”, di mana komunitas kulit hitam dan berwarna seringkali menjadi pihak yang paling dirugikan oleh polusi dan konsumsi energi raksasa dari sistem teknologi ini.

"AI tidak peduli apakah Anda hidup atau mati, saya berjanji. Ada harga untuk sebuah kenyamanan, dan komunitas kulit hitam serta kulit berwarna akan menanggung beban terberatnya setiap saat. Kita tidak akan menyadarinya sampai semuanya terlambat," ujar SZA dalam pernyataannya di media sosial.

Data dari National Resources Defense Council (NRDC) memang menunjukkan bahwa fasilitas industri yang menghasilkan limbah dan polusi tinggi secara historis lebih sering ditempatkan di wilayah yang didominasi warga Afrika-Amerika, Latin, dan masyarakat adat.

Di sisi lain, platform besar mulai mengambil langkah tegas. Deezer melaporkan bahwa konten buatan AI mencapai 28 persen di platform mereka dan telah mendemonetisasi 85 persen lagu tersebut. Sementara itu, Spotify juga telah menghapus sekitar 75 juta lagu yang dianggap "sampah" dan hasil peniruan identitas oleh AI.