JAKARTA - Putra mendiang John Lennon, Sean Ono Lennon, memilih untuk memikul tanggung jawab besar sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan sang ayah dan The Beatles.
Di usianya yang menginjak 50 tahun, Sean secara terbuka menyatakan dedikasinya untuk memastikan generasi muda tidak melupakan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh band asal Liverpool tersebut.
“Saya hanya berusaha sebaik mungkin untuk memastikan generasi muda tidak melupakan The Beatles, John, dan Yoko. Begitulah cara saya memandangnya,” kata Sean dalam wawancara terbaru dengan CBS Sunday Morning.
Langkah ini diambil Sean setelah sang ibu, Yoko Ono, yang kini berusia 92 tahun, memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan publik dan menikmati masa tuanya.
Sean mengaku, dirinya kini mengambil alih peran yang selama puluhan tahun dijalankan oleh ibunya dalam memproteksi material musik serta sejarah The Beatles dan Lennon-Ono.
Sepanjang tahun ini, Sean terlibat aktif dalam berbagai proyek, termasuk menjadi produser versi remastering “The Beatles Anthology” yang kini diperluas menjadi sembilan episode, serta mengawasi perilisan ulang boxset album “Mind Games”.
Bukan tanpa alasan. Bagi Sean, menjaga warisan ini adalah bentuk balas budi yang personal kepada orang tuanya.
BACA JUGA:
"Orang tua saya memberi saya begitu banyak hal, sehingga menurut saya hal paling sedikit yang bisa saya lakukan adalah mencoba dan mendukung warisan mereka seumur hidup saya,” ujar Sean.
“Saya merasa berhutang budi kepada mereka. Ini adalah masalah pribadi," tambahnya.
Sean menegaskan, inti dari warisan yang ia jaga bukan sekadar tentang musik, melainkan sebuah sikap tentang perdamaian, cinta, dan aktivisme yang dibalut dengan humor. Ia merasa adanya keharusan untuk memberikan yang terbaik karena standar tinggi yang telah ditetapkan oleh ibunya selama ini.
Menurut Sean, Yoko Ono adalah sosok yang sangat teliti dalam mengelola katalog musik John Lennon dan The Beatles, bahkan setelah puluhan tahun kepergian suaminya.
Di sisi lain, proyek The Beatles Anthology yang baru saja dirilis ulang mendapat sambutan positif, termasuk dari Giles Martin, putra dari produser legendaris George Martin.
Giles yang mengerjakan proses remastering menyatakan bahwa inti dari dokumenter ini adalah menunjukkan sisi kemanusiaan dari empat sahabat yang hanya berkumpul di sebuah ruangan untuk menciptakan musik, tanpa kerumitan industri musik modern saat ini.
Upaya kolektif antara Sean dan tim produksi ini diharapkan mampu menjembatani jarak antara sejarah musik klasik dengan telinga generasi baru di era digital.