Bagikan:

JAKARTA - Melonjaknya harga tiket konser musik pascapandemi terus menuai kritik tajam, tidak hanya dari kalangan penikmat musik, tapi juga dari para musisi.

Grup band rock alternatif asal Amerika Serikat, The All American Rejects, jadi salah satu nama yang secara blak-blakan mengecam fenomena ini dan menyebut perjuangan berburu tiket kini sudah bergeser menjadi sebuah kemewahan yang tidak sehat.

Tyson Ritter (vokal) dan Nick Wheeler (gitar) mengungkap keresahan mereka terkait cara industri musik modern memodifikasi karya seni serta basis penggemar.

Band yang baru saja merilis album penuh setelah absen selama 14 tahun itu menegaskan komitmen mereka untuk tetap menjadi band yang merakyat dan menolak tunduk pada tekanan kapitalisasi pasar.

"Kami sedang berbicara tentang seni di sini. Kenyataan bahwa Anda dapat memodifikasi penggemar Anda, itulah permainan industri sekarang,” kata Ritter.

“Ini telah menjadi pengalaman bagi kaum satu persen teratas (orang kaya), dan menurut saya itu sangat kacau. Karena orang-orang yang paling mencintai musik, orang-orang yang paling membutuhkan musik, adalah orang-orang yang hidupnya pas-pasan, orang-orang yang datang dari tempat asal kami," lanjut sang vokalis.

Sebagai bentuk protes nyata terhadap mahalnya tiket pertunjukan, The All American Rejects bahkan sempat menggelar tur independen dengan konsep yang tidak biasa. Mereka memilih tampil di area intim yang jauh dari jangkauan promotor raksasa, seperti pesta rumah, arena boling, hingga lumbung padi.

Langkah tersebut diambil secara mandiri demi menghadirkan pengalaman konser yang ramah di kantong penggemar, meskipun salah satu aksi panggung tersebut sempat dibubarkan oleh pihak kepolisian setempat.

Wheeler juga menyoroti keanehan yang terjadi di industri pertunjukan global saat ini. Menurutnya, ada ketidakwajaran sistemik ketika ongkos perjalanan ke luar negeri justru terasa lebih murah dibandingkan dengan menonton musisi idola di kota sendiri.

"Bagaimana bisa biaya pergi ke luar negeri untuk melihat band favoritmu menjadi lebih murah daripada sekadar melihat mereka di kotamu sendiri?” ujar Wheeler.

“Sekarang tanggung jawab ini, terutama bagi penampil utama, berada di tangan para musisi itu sendiri. Penggemar berhak mempertanyakan, 'Apakah artis favorit saya perlu menghasilkan 75 juta dolar AS musim panas ini? Atau bisakah mereka menghasilkan 30 juta dolar AS saja? Apakah uang itu sudah cukup bagi Anda?'" imbuhnya.

Kondisi karut-marut ini sejatinya sempat memicu respons dari Pemerintah Inggris yang sempat menjanjikan rancangan undang-undang untuk membatasi praktik calo tiket serta kebijakan harga dinamis.

Kendati demikian, regulasi tersebut dinilai lambat dan baru sebatas draf undang-undang, yang memicu gelombang protes serta surat terbuka dari manajemen musisi besar dunia seperti Radiohead, Arctic Monkeys, Ed Sheeran, hingga Dua Lipa agar pemerintah segera merealisasikan janji tersebut demi melindungi hak-hak para pecinta musik.