JAKARTA - Simon Cowell kembali memicu kontroversi di panggung hiburan dunia. Belum genap sepekan memperkenalkan boy band barunya yang bernama December 10, pria asal Inggris itu kini justru terancam kasus hukum.
Grup musik yang dibentuk melalui serial Netflix, Simon Cowell: The Next Act, mendapat protes keras dari band metal asal Skotlandia yang memiliki nama serupa, December Tenth.
Adapun perseteruan bermula saat grup metal December Tenth mengaku dibanjiri pesan salah sasaran di media sosial mereka.
Merasa identitas kreatifnya terancam, band beraliran cadas ini langsung melayangkan teguran terbuka. Melalui unggahan yang kini telah dihapus, mereka menyatakan bahwa Simon Cowell, Netflix, dan Universal Music harus segera berkomunikasi dengan tim hukum mereka.
"Terungkap selama beberapa hari terakhir bahwa Simon Cowell, Netflix, dan Universal Music terlibat dalam boyband baru, yang sampai batas tertentu berbagi nama dengan kami, December Tenth," kata band metal December Tenth, dikutip The Mirror, Kamis, 18 Desember.
“Jika ada orang di tim Simon, Universal, atau Netflix, yang ingin menghubungi kami dan tim hukum kami, mereka dapat melakukannya,” sambungnya. “Saya ingin menunjukkan bahwa ratusan pengikut baru yang kami dapatkan selama beberapa hari terakhir sangat disambut baik, tetapi saya tidak sepenuhnya yakin mereka semua asli."
BACA JUGA:
Kasus seperti ini bukan hal baru bagi Simon Cowell. Pria di balik kesuksesan One Direction itu pernah mengalami sengketa nama pada tahun 2011, saat grup vokal wanita Little Mix terpaksa mengganti nama mereka dari Rhythmix setelah mendapatkan gugatan hukum dari sebuah yayasan amal anak-anak dengan nama yang sama.
Meski dibayangi ancaman hukum, Cowell tetap optimis dengan proyek terbarunya ini. Grup yang beranggotakan Hendrik Christoffersen, Cruz Lee-Ojo, John Fadare, Nicolas Alves, Josh Olliver, Danny Bretherton, dan Sean Hayden tersebut diharapkan mampu mengulang kejayaan boy band terdahulu.
Cowell menekankan, meski industri musik telah berubah secara radikal, prinsip dasar untuk menemukan bintang tetaplah sama.
“Dunia telah banyak berubah. Musik telah berubah. Namun pada intinya, anehnya, tidak ada yang benar-benar berubah karena semuanya masih bergantung pada dasar yang sama, yaitu Anda harus menemukan bintang,” ujar Cowell.
Ia pun tak menampik adanya ketakutan besar saat memulai pencarian bakat ini, mulai dari kekhawatiran tidak ada yang datang saat audisi hingga keraguan mengenai kualitas vokal para kontestan saat dibawa ke AS.
Proyek ini terasa semakin emosional bagi Cowell, mengingat ia baru saja kehilangan salah satu bintang terbesarnya, Liam Payne, yang meninggal dunia setelah insiden tragis di Argentina.