JAKARTA - Pusakata kembali menyapa lewat single baru yang berjudul “Mengenang Hari Ini”. Lagu ini jadi karya pertama sejak sejak perilisan album “Mesin Waktu 2020” pada Agustus 2022.
Untuk single kali ini, Mohammad Istiqamah Djamad alias Is—sosok di balik Pusakata—memilih aransemen musik yang berbeda dari biasanya. Proses pembuatannya dinamis, menjadikan komposisinya pun terasa penuh dinamika.
Keterlibatan Denny Chasmala dan Irfan Chasmala menjadi pembeda yang sungguh kuat di lagu ‘Mengenang Hari Ini”. Musisi kakak-beradik itu sanggup meladeni kisah dan energi yang menjadi nyawa lagu—mengalun, menghentak dinamis, namun tetap menjaga ruh karakteristik musik Pusakata yang kaya.
Proses kreatifnya berlangsung cepat dan sengit, namun sarat akan relaksasi dan kontemplasi yang kental di dalamnya—menjadikan karya terbaru Pusakata seperti sebuah bilik konsultasi, tempat bercerita tentang problematika kesehatan mental, yang mana menjadi inspirasi lagu ini.
"Hidup adalah perjuangan. Tiap waktu, tiap perubahan yang hadir,” kata Is dalam keterangannya, Senin, 25 Agustus.
Musisi 41 tahun itu melihat setiap fase kehidupan seseorang memiliki dinamikanya masing-masing yang terus berkembang.
“Kita semua pastinya sering kali merasa lelah. Ada perasaan kalah pada setiap peperangan. Lalu kadang hal itu membuat kita jatuh dan terpuruk,” ujar Is.
BACA JUGA:
“Kadang kita berpikir bahwa semua harus terlewati dengan kemenangan mutlak. Namun hidup selalu punya kisah dan babakan berbeda untuk kita jalani,” sambungnya.
Lebih lanjut, Is melihat single “Mengenang Hari Ini” lahir dalam rangka mengingatkan diri kita untuk terus menggali dan memaknai setiap proses yang bergulir.
"Kalah adalah manusiawi. Sedih manusiawi. Marah dengan amarah yang besar adalah manusiawi. Lelah dan penat adalah manusiawi. Itu semua mengingatkan kita bahwa hidup akan selalu penuh dengan cobaan. Sebagai bahan untuk naik kelas. Namun dalam perjalanannya kita harus selalu ingat untuk rehat. Berhenti sejenak. Mencintai dan memeluk diri sendiri. Agar sabar selalu jadi hal yang utama,” tuturnya.
“Tidak semua peperangan harus dimenangkan. Tidak semua harus sempurna. Meski kita selalu berusaha sempurna. Karena kesempurnaan itu sendiri tidak ada pada manusia. Tidak semua harus kita kejar. Berhentilah sejenak,” tandasnya.