Citra Islami Harmoko Runtuh karena Keliru Baca Al Fatihah
Menteri Penerangan Era Orde Baru Harmoko (Sumber: Perpusnas.go.id)

Bagikan:

JAKARTA - Harmoko adalah salah satu pejabat paling menonjol di Orde Baru (Orba). Mantan Menteri Penerangan itu adalah orang dekat Soeharto yang terkenal Islami. Namun imejnya yang Islami sempat hancur dalam seketika. Ia disebut menyimpang dari Islam. Gelar hajinya dipertanyakan banyak pihak.

Harmoko terkenal aktif menghadiri hajatan umat Islam. Dari pesantren hingga perguruan tinggi. Harmoko terhitung pribadi tangguh yang mampu masuk lingkaran paling elite dalam peta kekuasaan Orba. Harmoko bahkan dipilih Soeharto menjadi pejabat elite selama tiga periode pemerintahannya.

Sebagai Menteri Penerangan, dirinya diingat sebagai sosok paling sering tampil di televisi. Pada pagi dan petang, Harmoko konsisten jadi penyampai pesan The Smiling General. Harmoko, yang juga mantan wartawan turut menjembatani pemerintah dan pers.

Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas nasional melalui pemberitaan “konstruktif.” Citra positif itu dibalut pula oleh Harmoko dengan gaya Islami kepeduliannya pada kehidupan Islam. Harmoko tak pernah absen mendatangi sekolah, pesantren, perguruan tinggi, dan kegiatan Keislaman lain.

Harmoko tak pernah menanggalkan peci hitamnya. Dalam kunjungan ke daerah atau pesantren-pesantren. Benda kecil itu melegitimasi figurnya yang di Islami. Tampilan Islami berbuah manis. Harmoko mendapatkan gelar terhormat di Sumatra yakni: Buya Haji Ahmad Harmoko.

Harmoko (Sumber: Perpusnas.go.id)

“Di Provinsi Sumatera Utara saja Harmoko sedikitnya tujuh kali berubah ‘busana.’ Di Pesantren Daar Ul'Uluum Kisaran, Harmoko memberikan ceramah agama. Di sinilah keluarga pesantren mengangkat Harmoko yang sudah haji itu menjadi ‘kerabat pesantren’ dengan gelar Buya Haji Ahmad Harmoko."

"Menteri juga mengunjungi Desa Rawomataluwo, Gunung Sitoli, Kabupaten Nias. Di sini, Harmoko bertatap muka dengan Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (kelompencapir) dan mendaftar menjadi anggota koperasi,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Safari Ramadhan (1989).

“Masyarakat menyambutnya dengan meriah. Walau berstatus ‘dalam perjalanan,’ Menteri yang energetik ini ternyata tak pernah batal puasa. la menyempatkan berbuka puasa bersama masyarakat dan kemudian salat tarawih bersama.

"Di saat-saat salat itulah Harmoko lebih suka ‘busana lamanya,’ yakni peci hitam kesayangannya. Maka, pakaian adat, terutama penutup kepala yang diberikan penyambut, ditanggalkan sejenak,” tambah laporan tersebut.

Citra Islaminya juga ditampilkan dalam tiap kesempatan di layar kaca. Harmoko sering mengutip Alquran dan Hadist untuk menunjukkan kedekatan emosional antara pemerintah dan rakyat Indonesia. Narasi itu jadi krusial bagi pemerintah membangun dukungan rakyat dalam pembangunan nasional.

Habibie, Soeharto, Harmoko (Sumber: Commons Wikimedia)

Dengan rasa optimis mengandalkan kebersamaan, kesatuan, dan persatuan sebagai seorang Muslim. “Sosok Soeharto dan Habibie saat itu digadang-gadang oleh MPR bakal bisa membawa bangsa menghadapi masa depan Indonesia. Bahkan, Harmoko yang dikenal setia mendampingi Soeharto menyatakan sudah memberikan amanat dan mandat kepada alamat yang tepat."

"Mengutip kitab suci Al Quran, Harmoko bilang, ‘Berikanlah amanat itu kepada ahlinya’ dan hadist Nabi: ‘Jika sesuatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran,’ ujar Femi Adi Soempeno dalam buku Mereka Mengkhianati Saya: Sikap Anak-Anak Emas Soeharto di Penghujung Orde Baru (2008).

Dituduh lecehkan Islam

Imej Harmoko yang Islami juga ditampakkan dalam Festival Greget Dalang 1995. Festival wayang yang dilaksanakan di pagelaran Keraton Surakarta itu jadi ajang Harmoko yang juga dalang mengkokohkan imej Islaminya. Harmoko membuka festival dengan mementaskan episode pendek sebelum pertunjukkan wayang utama.

Akan tetapi Harmoko melakukan kesalahan. Harmoko keliru melafal ayat terakhir surat Al Fatihah. Harmoko yang lupa mengucap ayat terakhir “ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn” dengan kata-kata "dulat-dulit." Lazimnya seorang dalang tak memulai pertujukkan dengan membaca satu bagian dari Alquran secara lantang.

Kesalahan itu sebenarnya tak jadi masalah. Penonton yang didominasi para sinden dan penabuh gamelan sempat menjawab dengan koor: Amin. Apalagi, penonton banyak berasal dari kalangan Abangan, yang sejatinya tak begitu ambil pusing atas kesalahan Harmoko.

Pandangan berbeda justru muncul tiga minggu kemudian dari Partai berhaluan Islam, Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP mengatakan kepada wartawan bahwa Harmoko telan menyimpang jauh dari niat spiritual Alquran. Kesalahan Harmoko membaca Al Fatihah jadi topik serius yang diliput media secara luas.

Menteri Penerangan Orde Baru Harmoko (Sumber: Commons Wikimedia)

Pun setelah itu, gelar haji yang berada di depan nama Harmoko dipertanyakan. Sekalipun PPP telah memaafkan Harmoko, aksi demonstrasi oleh kaum Muslim makin menjadi. Pengunjuk rasa menyebut pengucapan ayat terakhir Al Fatihah oleh Harmoko bukan perkara selip lidah. Harmoko dituduh sengaja mengganti ayat itu untuk melecehkan umat Islam.

“Dalam sebuah pertemuan antara pengunjuk rasa dan para wakil dari berbagai fraksi parlemen, seorang juru bicara pengunjuk rasa, Ahmad Yani, mengungkap kasus Harmoko harus diajukan ke pengadilan karena Harmoko tampak tak terpeleset dalam mengucapkan Al Fatihah."

"Sebab (Al Fatihah) sedikitnya diucapkan 17 kali sehari oleh komunitas Muslim ... Oleh karena itu, sengaja atau tidaknya Harmoko, kasus itu harus diuji karena mengingat Harmoko bukan Muslim baru,” tulis John R. Bowen dalam buku Islamic Prayer Across The Indian Ocean: Inside and Outside The Mosque (2018).

Kasus itu mereda ketika Harmoko meminta maaf kepada kaum Muslim seluruh Indonesia. Sebagai bagian mencari dukungan, Harmoko juga menjelaskan duduk perkara masalah “selip lidah” baca Al Fatihah secara langsung kepada Soeharto.

“Para wartawan bertanya kepada Menteri Kehakiman apakah Harmoko mestinya dibawa ke pengadilan, mengingat bahwa kasus serupa pernah diajukan ke pengadilan. Tekanan terganjal di Harmoko melalui perwakilannya di daerah, ia memohon maaf kepada masyarakat, khususnya kepada umat Islam. Panitia festival juga meminta maaf."

"Ketika cara ini tak bisa menyelesaikan masalah ini, Harmoko tampil secara formal di depan Presiden Soeharto, menjelaskan tindakannya dan meminta maaf,” tutup Sumarsam dalam buku Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global (2018).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

MEMORI Lainnya