JAKARTA – Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan. Sejumlah pengamat menyebut kata ndasmu yang ditujukan Prabowo untuk para pengkritiknya tidak pantas diucapkan oleh seorang kepala negara.
“Tidak ada presiden yang punya tongkat Nabi Musa. Negara kita sangat besar. Sudah kita mulai sekian ratus orang, masih ada yang komentar belum banyak. Kalau enggak ada wartawan, saya bilang ndasmu,” ujar Prabowo.
Itu adalah petikan pidato Prabowo Subianto dalam peringatan ulang tahun ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Sabtu (15/2/2025). Bukan sekali, tapi tiga kali Ketua Umum Gerindra itu melontarkan kata ndasmu.
Pertama ketika Prabowo menanggapi kritik terhadap program andalannya, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Prabowo banyak pihak meragukan kemampuan pemerintah dalam menjalankan program tersebut.
Kata ndasmu kembali dilontarkan ketika merespons kritik yang menganggap kabinet bentukannya terlalu gemuk.
“Ada orang pintar bilang, kabinet ini gemuk, terlalu besar… ndasmu,” ucap Prabowo.
Dan terakhir, mantan Menteri Pertahanan ini juga menggunakan ungkapan yang sama ketika menanggapi tudingan publik bahwa ia dikendalikan oleh Joko Widodo, presiden ketujuh Indonesia.
“Nanti saya dibilang dikendalikan Pak Jokowi, cawe-cawe… ndasmu,” tuturnya lagi. Dan, di tiga kesempatan itu disambut tawa tamu undangan yang hadir.
Tegas tapi Otoritatif
Sebetulnya bukan kali ini saja Prabowo melontarkan ndasmu di sebuah acara. Pada akhir 2023, sebelum pemilihan presiden digelar, Prabowo juga mengeluarkan kata tersebut dalam acara internal Partai Gerindra.
“Bagaimana perasaan Mas Prabowo soal etik? Etik, etik, etik. Ndasmu etik,” kata Prabowo. Potongan video itu juga kemudian menjadi viral di media sosial.
Waktu itu, Prabowo mengatakan ucapan ndasmu etik disampaikan dalam pembicaraan bersama internal partai. Ia juga meminta media tidak perlu membesar-besarkan ucapannya itu.
Ahli filologi bahasa Jawa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Supardjo mengatakan, kata ndas berarti kepala dalam bahasa Jawa. Ia menjelaskan, dalam bahasa Jawa kata-kata yang digunakan sesuai dengan tingkatan sopan santun saat berbicara dengan orang lain.
Sedangkan ndas merupakan kata dalam bahasa Jawa ngoko yang memiliki tingkatan paling rendah. Penggunaan kata ndas sering dianggap memiliki makna kasar dan digunakan untuk mengatai seseorang.
Hal senada disampaikan Guru Besar Linguistik UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamal Yusuf, yang menilai penggunaan kata ndasmu oleh Prabowo punya konotasi negatif. Ungkapan ini terdengar kasar dan menunjukkan pergeseran dari bahasa resmi ke bahasa informal.
“Meski bersifat informal, pilihan kata tersebut tetap terkesan kasar,” kata Kamal.
Dari perspektif strategi kesantunan, ndasmu merupakan bentuk face-threatening act, tindakan yang dapat mengancam citra lawan bicara, dalam hal ini para pengkritik Prabowo.
“Dalam konteks politik, ini bisa memperkuat kesan Prabowo sebagai pemimpin yang tegas tapi juga otoritatif,” ia menambahkan.
Mendegradasi Kualitas Komunikasi Politik
Tapi ada konsekuensi yang mesti ditanggung jika Prabowo terus menggunakan kata ndasmu. Penggunaan kata tersebut, kata Kamal, mengancam kewibawaan Prabowo, baik sebagai invidiu maupun sebagai presiden.
Publik menginginkan komunikasi yang lebih menenangkan, terutama ketika pemerintah menghadapi kritik.
Sebagai kepala negara, Prabowo mestinya mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kata yang digunakan. Untuk membangun citra yang kuat, seorang pemimpin harus tetap menghormati norma komunikasi publik.
"Normalisasi bahasa kasar di tingkat elite bisa berujung pada degradasi kualitas komunikasi politik di Indonesia," tegas Kamal.
BACA JUGA:
Sementara itu, pakar komunikasi politik LSPR Lely Arrianie mengingatkan, kalau kritik publik terus dibalas dengan ungkapan yang tidak pantas, elektabilitas Prabowo bisa terdegradasi pelan-pelan.
Bahkan menurutnya, bukan tidak mungin pencalonan untuk periode kedua pada 2019 bisa kandas jika ia terus menggunakan kata tak pantas. Itulah sebabnya, Lely menyarankan Prabowo mengubah gaya komunikasi politiknya.
"Saya lihat Prabowo hanya akan sadar sikap dia kurang etis atau kurang ksatria ketika direspons publik dengan penurunan approval ratingnya," tutup Lely.