JAKARTA – Memori hari ini, lima tahun yang lalu, 22 Desember 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tunjuk Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama (Menag) yang baru. Yaqut dipandang mampu untuk menjaga kerukunan antara agama.
Sebelumnya, kepemimpinan Menag, Facrul Razi sering mendapatkan kritik. Facrul dianggap sering majukan agenda polarisasi umat Islam. Ambil contoh langkahnya mempermasalahkan soal cadar dan celana cingkrang sebagai wujud dari radikalisme.
Kehadiran Kemenag dianggap bisa menjadi jalan dalam menghadirkan kerukunan antar umat beragama. Kondisi itu karena Indonesia dikenal beragam, bukan seragam. Sekalipun kemudian Menag yang terpilih kerap mereka yang mewakili agama Islam.
Presiden Jokowi mulanya hati-hati dalam mengangkat seorang Menag. Jokowi menginginkan sosok pemimpin yang dapat memahami luar dalam urusan umat beragama. Jokowi pun sempat menjatuhkan pilihan kepada Fachrul Razi dalam periode dua kekuasaannya sedari 2019.
Sosok yang memiliki latar belakang militer itu dianggap bisa membawa Kemenag besar dan kondusif. Nyatanya, jauh panggang dari api. Kehadiran Fachrul Razi justru dipandang membawa polarisasi umat Islam.
BACA JUGA:
Ambil contoh niatan Fachrul ingin menjauhkan rakyat Indonesia dari paham radikalisme. Namun, Fachrul justru menyasar agenda supaya aparatur sipil negara tak boleh menggunakan cadar dan celana cingkrang. Ia menganggap hal itu sebagai bentuk radikalisme.
Keinginan Fachrul mendapatkan kritik dari berbagai macam pihak. Kemenag dianggap tak becus kerja. Perlawanan terhadap radikalisme bukan kepada pakaian, tapi kepada lawan ideologinya. Kritik paling keras pun kemudian didengungkan oleh Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.
"Daripada ngurusin yang tampak mending Menag itu ngurusin yang subtansial aja deh. Kalau memang secara ideologi itu berkaitan antara radikalisme dan terorisme itu berkaitan dengan cadar itu, nah baru keluarkan peraturan itu.”
“(Menag) pelajari dulu itu, apa itu radikalisme, terorisme berhubungan gak sama cara berpakaian orang? Kalau tidak berhubungan, ngapainsihbikin aturan yang gak perlu," ungkap Yaqut sebagaimana dikutip lamanTirto, 31 Oktober 2019.
Jokowi bak mendengar kritik terkait kinerja Fachrul. Jokowi kemudian berencana mengganti Fachrul dari jabatan Menag. Keinginan itu kesampaian pada 22 Desember 2020. Jokowi kemudian mengangkat Yaqut yang notabene kerap mengkritik Kemenag sebagai Menag yang baru.

Pengangkatan Yaqut diharapkan dapat menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Yaqut sendiri menganggap jabatan yang diberikan sebagai amanah yang besar. Ia pun berjanji akan mengedepankan kerukunan beragama. Narasi itu karena semua agam berhak dibela. Alhasil, Yaqut baru benar-benar resmi dilantik sehari setelahnya, 23 Desember 2020.
"Pertama yang saya lakukan adalah menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi. Artinya apa, bahwa agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan sebagai alat politik, baik untuk menentang pemerintah maupun merebut kekuasaan atau mungkin tujuan yang lain.”
"Kenapa ini penting kita tahu bahwa Indonesia ini merdeka, negara ini lepas dari jajahan kolonial karena perjuangan semua agama. Bukan hanya Islam, umat muslim. Maka penting ukhuwah wathoniyah ini kita bangkitkan kembali agar tidak ada satu kelompok pun, tidak ada satu agama yang mengklaim memiliki negara. Semua berhak memiliki negara ini" ujar Yaqut sebagaimana dikutipVOIdalam konfrensi persnya sehari sebelum pelantikan, 22 Desember 2020.