JAKARTA - Ferdinand Marcos Jr (Bongbong Marcos) sempat dianggap aib dalam peta politik Filipina. Kondisi itu karena jejak buruk kekuasaan ayahnya yang represif dan korup. Namun, Bongbong tak ingin citra buruk terus melekat pada nama keluarganya.
Presiden Filipina itu berjanji menyejahterakan rakyat Filipina. Langkah progresifnya pada awal menjabat adalah memutus kerja sama pendanaan kereta api dari China. Bongbong menganggap kerja sama itu dipandang banyak mudarat, ketimbang manfaat.
Hubungan Filipina dan China sempat mesra-mesranya di era Presiden Rodrigo Duterte. Pemimpin Filipina era 2016-2022 sampai dikenal pro Beijing. Artinya, apa saja langkah politik Negeri Tirai Bambu akan didukungnya.
Kondisi itu membuat China mau mendukung semua rencana Dutertre – utamanya dalam proyek infrastruktur. China bahkan setuju memberikan instrumen pinjaman untuk mendanai tiga megaproyek kereta api milik Filipina.
Pertama, proyek kereta api Subic-Clark. Kedua, proyek kereta api jarak jauh. Ketiga, proyek kereta api Davao-Digos. Dana yang dibutuhkan mencapai 5 miliar dolar AS. Duterte memandang proyek itu akan meningkat pertumbuhan ekonomi di Filipina.
Kehadiran rencana itu membuat hubungan kedua negara kian dekat dan bersahabat. Duterte memahami jika proyek itu tak bisa berjalan dalam periodenya. Ia berharap penerusnya bisa menjalankan proyek kereta api.
Mimpi Filipina punya transportasi massal mempuni selangkah lagi tercapai. Namun, jauh panggang dari api. Presiden Filipina yang baru dilantik pada 2022, Bongbong Marcos ogah kerja sama dengan China.
Bongbong yang notabene kerap dibayang-bayangi oleh era pemerintahan ayahnya yang represif dan korup justru menganggap kerja sama dengan China akan membawa kerugian. Ia pun ingin menyejahterakan rakyat. Langkah itu diikuti dengan peninjauan kembali kesepakatan dengan pihak China.
BACA JUGA:
Semuanya karena China bak menginjak-injak harga diri Filipina dalam konflik di Laut China Selatan. Belum lagi soal skema jebakan utang China yang sedang naik daun merugikan banyak negara. Skema itu dikenal dengan cara China akan beri pinjaman, negara tak mampu bayar, kemudian China akan merebut aset strategis sebagai jaminan.
"Uang Tiongkok memang penting. Namun, melindungi kedaulatan dan integritas wilayah lebih kredibel daripada paksaan politik dan ekonomi Tiongkok,” ungkap pendiri lembaga riset Kerja Sama Pembangunan dan Keamanan Internasional (IDSC), Chester Cabalza sebagaimana dikutip laman South China Morning Post, 11 November 2023.
Gandeng AS
Pemerintahan Bongbong dengan tegas menolak keterlibatan China dalam pendanaan proyek kereta api. Kondisi itu membuat Bongbong segera mencari pendanaan baru untuk proyek kereta api Filipina. Namun, urusan mencari pendanaan tak mudah.
Rencana Filipina garap tiga proyek kereta tak kunjung terealisasi. Namun, kepastian untuk jalankan satu proyek kereta api muncul pada Juni 2025. Bongbong memastikan rencana pembangunan proyek kereta api akan kembali dijalankan.
Alih-alih menggandeng China, Filpina justru memilih pendanaan dari Amerika Serikat. Alasan Bongbong mengandeng AS dan Jepang tak lain sebagai siasat mengurangi pengaruh China di Asia. Kehadiran AS membantu pembangunan dianggap bawa berkah bagi Filipina.
Proyek kereta api yang awalnya hanya mencangkup Subic-Clark – kemudian dengan gandeng AS diperluas jadi Subic, Clark, Manila, Batangan (SCMB). Proyek itu direncanakan akan dibangun sepanjang 212 kilometer. Pemerintah Filipina meramal proyek itu di masa depan akan jadi tulang punggung ekonomi di wilayah Luzon.
AS pun tiada keraguan memberi dukungan penuh pada rencana SCMB. AS berencana memberikan bantuan teknis pula. Antara lain pengembangan model trasportasi, studi integrasi pelabuhan-kereta api, hingga hukum dan kelembagaan.
Bongbong pun senang bukan main. Rencananya membangun proyek kereta api selangkah jadi kenyataan. Proyek itu dianggap akan menambah geliat peningkatan ekonomi Filipina. Keputusan Bongbong bak menjadi pengingat untuk hati-hati dengan skema utang China.
"Proyek ini menggarisbawahi peran vital aliansi AS-Filipina dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Dengan mendukung pembangunan Jalur Kereta Api SCMB, kami memastikan infrastruktur utama akan berkembang pesat.”
“Kehadiran kereta api akan meningkatkan kerja sama ekonomi untuk mengembangkan jalur perdagangan penting yang akan saling menguntungkan bagi warga Amerika dan Filipina. Kemitraan kami dengan Filipina menunjukkan kekuatan kepemimpinan Amerika di Indo-Pasifik dan menggarisbawahi komitmen kami untuk memajukan kepentingan bersama,” ujar Pelaksana Tugas DirekturBadan Perdagangan dan Pembangunan AS (USTDA), Thomas R. Hardy sebagaimana dikutip laman usembassy.gov, 27 Juni 2025.