Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini 10 tahun yang lalu, 25 September 2015, Menteri Olahraga Jepang, Hakubun Shimomura resmi mengundurkan diri. Pengunduran diri itu dilakukan imbas batalnya rencana pembangunan stadion mewah untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Sebelumnya, seisi Jepang bersuka cita karena negara terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade tahun 2020. Kondisi itu membuat pemerintah Jepang berbenah. Mereka mencoba menambah dan membangun fasilitas untuk Olimpiade Tokyo. Bahkan, Jepang berencana bangun stadion olahraga megah.

Perjuangan Jepang jadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 2020 tak mudah. Jepang harus mengalahkan Spanyol (Madrid) dan Turki (Istanbul) dalam pemungutan suara yang dilakukan Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada September 2013.

Narasi itu membuat Jepang menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya – dulu Olimpiade dilaksanakan pada 1964. Kondisi itu membuat rakyat Jepang bersuka cita. Pemerintahan Shinzo Abe tak mau kalah. Mereka mencoba menggelontorkan banyak dana untuk mendukung penyelenggaraan Olimpiade Tokyo.

Ambil contoh pemerintah Jepang ingin membangun stadion besar untuk Olimpiade di Tokyo. Mereka menggandeng Arsitek kawakan asal Inggris, Zaha Hadid. Pembangunan itu direncanakan makan biaya mencapai 1 miliar dolar AS.

Stadion Olimpiade Tokyo 2020. (Sky Sports)

Rencana itu mendapatkan sambutan positif. Namun, setelah dihitung ulang rencana pembangunan stadion bertambah jadi 2 miliar dolar AS. Biaya yang bengkak itu imbas dari peningkatan biaya konstruksi di Tokyo.

Semuanya karena Tokyo adalah kawasan yang mahal. Standar keselamatan dan keamanannya ketat. Namun, pembengkakan biaya mendapat sorotan tajam dari banyak pihak. Mereka merasa pembangunan itu terlalu mahal.

Rakyat Jepang pun meminta pemerintah untuk membatalkan rencana pembangunan stadion. Pemerintah pun diminta segera membuat rancangan stadion baru dengan pendanaan yang tak terlalu menguras kantong empunya kuasa.

Alhasil, Perdana Menteri (PM), Shinzo Abe ambil keputusan membatalkan rencana pembangunan stadion pada Juli 2015. Pembatalan itu dilakukan karena dana yang membengkak terlalu banyak.

"Saya telah mendengarkan aspirasi masyarakat dan para atlet selama kurang lebih sebulan, memikirkan kemungkinan peninjauan ulang. Kita harus kembali ke papan gambar. Biayanya sudah membengkak terlalu banyak," ungkap Abe sebagaimana dikutip laman BBC, 17 Juli 2015.

Pembatalan itu membuat Hakubun Shimomura dikritik dan dikecam. Menteri Olahraga Jepang itu diyakini jadi yang paling bertanggung jawab atas membengkaknya rencana pembangunan stadion untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Shimomura pun akhirnya tak kuasa menerima kritik. Ia memutuskan mengundurkan diri secara resmi dari jabatan Menteri Olahraga pada 25 September 2020. Ia juga mengembalikan gajinya sebagai menteri selama enam bulan yang mencapai 900 ribu yen atau sekitar Rp110 juta sebagai bentuk tanggung jawab.

Sekalipun, Shimomura masih bekerja sebagai Menteri Olahraga hingga 7 Oktober 2012. Pengunduran diri Shimomura kemudian bawa kehebohan di berbagai negara lainnya. Narasi itu karena masalah itu masih bisa diselesaikan tanpa harus mengundurkan diri.

"Memang benar hal ini telah menimbulkan banyak kekhawatiran dan ketidaknyamanan. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk mengembalikan gaji enam bulan yang telah saya terima sejak hari itu,” ujar Shimomura sebagaimana dikutip laman BBC, 25 September 2015.