JAKARTA - Diego Armando Maradona punya pengalaman buruk berjumpa pemimpin besar katolik di Vatikan. Dulu kala ia pernah berjumpa secara langsung dengan Paus Yohanes Paulus II. Hasilnya Maradona berang dan beradu mulut.
Ia menilai niatan Sri Paus membasmi kemiskinan di dunia palsu. Beda hal kala Maradona berjumpa dengan Paus Fransiskus. Maradona suka tampilan sederhananya. Ia bak menemukan sosok orang suci yang tulus dalam misi kemanusiaan. Maradona sampai mengaku jadi pengemar terbesarnya.
Tiada yang meragukan eksistensi Maradona sebagai bintang sepak bola dunia. Aksinya bermain sepak bola kerap memancing kehebohan. Namun, kehebohan lain juga terjadi di luar lapangan.
Sikap politiknya yang berpihak kepada mereka yang teraniaya tak tertahankan. Ia bahkan mengidolakan tokoh revolusioner kiri dunia macam Che Guevara hingga Fidel Castro. Belakangan Maradona aktif menjalankan perannya sebagai aktivis kemanusiaan.
El Diego pun senang bergaul dengan mereka yang memiliki niatan yang sama dengannya. Ia pun mencoba datang ke Vatikan untuk berjumpa dengan Paus Yohanes Paulus II pada 1986. Kedatangan itu dianggap bagian penting dalam hidupnya.
Maradona bisa berjumpa dengan tokoh yang kerap menggelorakan misi kemanusian. Harapan tinggal harapan. Kisah yang diceritakan Paus Yohanes Paulus II membantu kaum miskin – utamanya anak-anak dianggap pepesan kosong belaka olehnya.
Ia melihat langsung bagaimana megahnya Palazzo Apostolico (istana Apostolik) dengan langit-langit emasnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Sri Paus dilayani. Ia menganggap Paus tak pernah merasakan kesukaran dalam hidupnya. Perut Paus tak pernah kosong. Tidak pernah sekalipun merasa kelaparan.
Maradona pun beranggapan bahwa orang macam apa yang tinggal di dalam istana dengan langit-langit emas. Kemudian, mereka datang ke negara miskin dan mencium anak-anak dengan perut kenyang. Maradona pun menantang Sri Paus menjual langit-langit emasnya.
BACA JUGA:
Tantangan Maradona diarahkan supaya Sri Paus benar-benar dapat membantu mengurangi kemiskinan. Namun, keduanya justru beradu mulut.
“Sebelum saya melanjutkan cerita saya, katakanlah dari puncak tertinggi karier saya – tepat setelah Piala Dunia Meksiko 1986 – Saya mengomentari banyak masalah dengan banyak orang. Ya, saya pernah bertengkar dengan Paus Yohanes Paulus II.”
“Saya kesal karena saya pergi ke Vatikan dan melihat langit-langit emas. Dan kemudian saya mendengar Paus berkata bahwa gereja peduli terhadap anak-anak miskin. Namun, emosi saya meledak, aku meminta Paus menjual langit-langit emas: Lakukan sesuatu! Anda memiliki segalanya untuk membantu orang miskin,” ungkap Maradona dalam buku Yo soy el Diego (2000).
Perjumpaan dengan Paus Fransiskus
Maradona memang pernah adu mulut dengan Paus Yohanes Paulus II. Namun, kondisi itu tak terjadi kala ia berjumpa dengan pemimpin besar katolik yang baru: Paus Fransiskus. Ia berjumpa pertama kali dengan Paus Fransiskus dan berjalan baik pada 2014.
Perjumpaan itu berlangsung di tengah terjadinya dalam sebuah persiapan pertandingan amal di Casa Santa Marta, Vatikan. Pertemuan kedua orang Argentina itu jadi berita besar di Italia. Ada media besar sampai menulis: Sang Tangan Tuhan (Maradona) berjumpa Tangan Kanan Tuhan (Paus Fransiskus).
Tiada kata kurang pantas yang keluar dari mulut Maradona. Ia malah memuji Paus Fransiskus sebagai orang suci yang tulus menjalankan misi kemanusiaan. Pandangan itu datang dari kesederhanaan Paus dan juga jejak perjuangannya menyuarakan banyak hal dari antiperang hingga kemiskinan.
Maradona bahkan sempat memberikan Paus Pinggiran (julukan karena Fransiskus kerap memihak mereka yang terpinggirkan) seragam timnas Argentina dengan nomor punggung 10 bertuliskan nama Fransisco. Ia juga mengaku penggemar dari Paus Fransiskus.
Maradona tak lupa menempatkan pesan penting dalam seragam yang diberikan. Pesan itu: untuk Paus Fransiskus, dengan segala kasih sayang dan (harapan) banyak perdamaian di dunia. Paus pun mengungkap kekagumannya atas dedikasi Maradona dalam sepak bola.
Paus Fransiskus bahkan ikut memberikan pesan menyentuh kala Maradona telah tiada pada 2020. Ia mengenang Maradona sebagai pesepakbola hebat dunia. Paus menganggap prestasi yang Maradona raih sulit bisa disamakan oleh pemain sepak bola lainnya.
“Terlahir dalam kemiskinan yang parah, Diego bangkit dengan usaha kerasnya sendiri, memukau lawan-lawannya, dan mendapatkan rasa hormat dari penggemar olahraga di seluruh dunia. Bola itu seakan melekat di kaki kirinya. Dalam kondisi terbaiknya - dan kondisi terbaiknya adalah yang tertinggi - dan tak ada yang menyamainya.”
“Namun seperti para jenius lainnya, keahlian dan kecemerlangannya terbatas pada satu bidang tertentu, dan ia berjuang keras dalam aspek-aspek lain dalam hidupnya, terkepung oleh masalah-masalah yang berhubungan dengan narkoba dan alkohol, yang tidak pernah ia coba untuk maafkan atau sembunyikan. Ia melawannya dengan sekuat tenaga dan mempublikasikannya,” ujar Paus Fransiskus sebagaimana dikutip laman vaticannews.va, 25 November 2020.