Asal Usul Kemang, Daerah Resapan yang (Kini) Padat Penduduk
Kawasan Kemang (Detha Arya Tifada/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Pada era 1950-an kawasan Kemang, Jakarta Selatan, merupakan kawasan perkebunan. Bahkan ada pula yang sampai-sampai mengatakan sebagai tempat jin buang anak, itu karena saking sepinya.

Kawasan ini sungguh masyur di telinga orang-orang sebagai tempat hunian ekspatriat yang asal muasal dinamainya karena dahulu banyak tumbuh pohon kemang, dalam bahasa latinnya disebut Mangifera Kemanga Caecea. Alhasil jadilah kawasan ini dinamai Kemang, yang saat ini termasuk dalam kawasan administratif Kelurahan Bangka, Jakarta Selatan.

Kalau sekarang kita melihat Kemang sebagai kawasan hunian elite serta tempat kongkow paling hits di selatan Jakarta yang tak pernah tidur, dikarenakan perputaran bisnis mulai dari restoran, café, bar, pub, hotel, apartemen, hingga hiburan malam yang berdenyut sepanjang hari.

Padahal, dahulu Kemang hanya sebuah kampung di Kelurahan Bangka. Menurut rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jakarta tahun 1965-1985, Kemang difungsikan sebagai daerah resapan air. Dalam artian, tidak diperbolehkan ada banyak bangunan yang yang menutupi permukaan tanah.

Pantauan udara banjir Jakarta (Mery Handayani/VOI)

 

Berubah Fungsi

Hal ini sungguh berbeda kala melihat Kemang yang sekarang sudah cukup padat, menjamurnya hunian-hunian dengan standard ekspatriat, serta makin ramainya ragam bisnis dan jasa baru yang tiap tahunnya selalu bertambah berkat diizinkannya Kemang menjadi wilayah komersial sekitar tahun 1999 silam.

Inilah mengapa pada era 2000-an, kawasan ini dikenal sebagai kawasan ‘anak nongkrong Jakarta. Saking terkenalnya, sampai-sampai ada ungkapan “kalau belum kongkow-kongkow di Kemang, belum gaul.” Anak-anak muda tersebut mengisi kegiatan di Kemang dengan bersantai di café-café, restoran, dan sejenak menenangkan pikiran di ragam hiburan malam yang tersedia.

Pemandangan berbeda akan didapat kala mengulik kembali sejarah Kemang. Semisal kalau sekarang menjadi pusat tongkrongan anak muda. Dahulu, Kemang malah menjadi daerah yang ditongkrongin oleh para jawara.

Semua itu diungkap oleh Ridwan Saidi yang sohor sebagai budayawan Betawi dalam buku yang berjudul ‘Profil Orang Betawi’. Babe Ridwan (sapaan akrabnya) mengungkapkan bahwa Kemang memang dahulunya disebut dengan ‘kampung Jawara.’

Dia mengisahkan, pada abad ke-18, Kemang menjadi markas jawara yang melakukan perlawanan terhadap penjajah. Kenapa? Karena Kemang dahulu merupakan wilayah yang sulit dijangkau, oleh karena tanahnya yang senantiasa berlumpur sepanjang tahun, apalagi saat musim hujan. Tak hanya itu, Konturnya berbukit, dan pepohonan rindang yang membuat kawasan ini ideal sebagai tempat persembunyian.

Ironisnya, sekarang rindangnya pepohonan di Kemang hanya sebagai cerita pengantar tidur, serta sebagai pokok pembahasan yang tak penting diulas di warung kopi. Paling-paling dengan inti pembahasan ‘kok kemang dulunya nyaman, kini sumpek, penuh dan malah semakin ditambah bangunannya.’ Ungkap mereka yang telah mendiami kawasan Kemang dari tahun 1970-an.

Selain itu, banjir yang selalu menyapa Kemang tiap tahun, rasanya dapat dijadikan bukti, betapa kawasan ini harus diselamatkan sesegera mungkin. Seperti yang diutarakan di awal, Kemang harusnya menjadi daerah resapan air, malah semakin hari terjadi penyempitan badan sungai.

Bahkan, tak jarang ditemukan ada banyak bangunan mengokupasi lebar sungai. Apalagi daerah yang dahulunya menjadi ‘water catchment’ (tangkapan air) berupa cekungan alami dengan fungsi sebagai daerah tangkapan air, sekarang sudah menjadi sebuah pusat perbelanjaan besar, apartemen, dan bangunan komersial lainnya.

Dampaknya terlihat ketika hujan turun, meski tak terlalu deras, kawasan Kemang langsung tergenang dengan cepat, terutama di depan Kemchick Kemang.

Ambil contoh pada pertengahan tahun 2016 saja. Saat itu hujan cukup deras di kawasan Kemang yang membuat mobil-mobil terendam banjir dan beberapa sepeda motor pula ikut terendam akibat hujan yang membuat Kali Krukut meluap di kawasan tersebut.    

Adanya suara sumbang yang mengungkap ‘alah, kan cuma setahun sekali juga banjirnya.’ Sungguh membuat orang yang mendengarnya paham, bahwa ada yang harus diubah dari mental manusianya.

Kenapa? Sudah tahu Kemang tiap tahun banjir, ya baiknya bersuara terkait dukungan agar Kemang tak lagi-lagi terkena banjir, serta bukan malah mengemukakan sikap ‘pembiaran.’

Nah, solusi yang menurut pemikiran masih terdengar masuk akal ialah dengan mengunduh pendapat dari pengamat perkotaan Nirwono Yoga seperti dilansir Republika, bahwa sudah sepantasnya dilakukan audit bangunan dan audit lingkungan terkait tata ruang Kemang.

Seperti menghitung berapa ruang yang tersisa dan berapa ruang yang masih bisa diselamatkan. Dari hal tersebut, menurutnya akan menghasilkan kapasitas ruang yang direkomendasikan untuk dilindungi.

Kemang saat ini mulai ditinggal oleh anak muda sebagai area kongkow kreatif, seiring menjamurnya ragam tongkrongan baru di hampir tiap wilayah Jakarta.

Kiranya, dengan mengembalikan suasana nyaman, teduh, dan jauh dari kata sumpek, itulah pentingnya audit lingkungan agar Kemang nyaman, aman dan produktif untuk dihuni dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.