Tentang Nabila Maharani, Menyanyi Buat Anda yang ‘Ambyar’
Nabila Maharani (DOK Instagram pribadi)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Mungkin bagi warga Ibu Kota nama Nabila Maharani asing didengar dibanding nama penyanyi lain yang mencuat lewat indie label. Tapi bagi mereka yang istilahnya ‘ambyar’ dengan lagu genre Jawa Koplo, Nabila Maharani bukan hal baru di telinga.

Nabila Maharani, penyanyi asal Yogyakarta ini mulai dikenal publik lewat video cover lagu. Nabila kerap bernyanyi bersama Tri Suaka di Pendopo Lawas, Alun-alun Utara, Yogyakarta. 

Gadis kelahiran Februari 1999 yang punya channel YouTube dengan 659 ribu subscribers ini, acapkali menyedot perhatian di media sosial. 

Pernah Nabila Maharani, Tri Suaka, bernyanyi bersama Woro Widowati. Lagu Dalan Liyane sampai Balik Kanan Wae.

Mengapa Nabila Maharani bisa menyedot perhatian?

Mae, karyawan di Jakarta kelahiran Jogja, menyebut Nabila, Woro atau Happy Asmara bisa menggubah lagu yang bisa jadi mengena ke hati banyak orang apalagi anak muda yang kerap dijuluki 'rapuh hati'.

“Mereka bisa membawa lagu Jawa Koplo lebih masuk ke banyak orang. Pesannya sampai bagi mereka yang memang awalnya suka genre pop,” ujar dia.

Pendapat ini juga disuarakan Dhani, pekerja kantoran di Jakarta. Musik baginya bisa menembus ‘batas-batas’ tertentu yang bisa jadi tak terpikirkan orang lain. 

“Musik itu nggak terhalang bahasa, menyentuh rasa dulu, urusan bahasa yang beda bisa dicari, Google translate istilahnya,” kata Dhani, pria kelahiran Semarang ini tertawa.

Dia mencontohkan kawannya yang memang keturunan Batak tapi cocok dengan lagu-lagu ambyar. Dia melihat kawannnya itu berusaha keras mengartikan bahasa Jawa agar mengerti arti dari pesan yang disampaikan dalam lagu sambil tetap menyetel lagu-lagu itu di laptopnya.

Bagi Dhani, lagu cover yang dibawakan Nabila Maharani atau pun penyanyi asal daerah lainnya bisa diterima meski si pendengar harus bersusah payah mengartikan lagu itu ke bahasa Indonesia. 

“Nabila Maharani enak suaranya, renyah dan diksi bahasa Jawanya juga gampang dipahami. Jadi macam nostalgia lagu-lagu Jawa yang dibawain model musik pop,” tutur Dhani.