JAKARTA - Di tengah perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi, museum tak lagi hanya menjadi ruang sunyi yang dipenuhi benda-benda bersejarah. Kini, sejarah, seni, dan budaya hadir lebih dekat melalui layar ponsel.
Mulai dari menghidupkan kembali karya seni klasik dengan gaya modern hingga menghadirkan tur virtual museum kelas dunia lewat siaran langsung, platform digital perlahan mengubah cara publik memahami budaya.
Momentum ini semakin terasa saat peringatan Hari Museum Internasional pada 18 Mei. Di berbagai belahan dunia, museum mulai mengadopsi pendekatan baru agar tetap relevan bagi generasi muda, yakni menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif, personal, dan mudah diakses.
Selama setahun terakhir, sejumlah museum dunia memanfaatkan format digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Di New York, The Metropolitan Museum of Art menghadirkan tur LIVE selama tiga hari yang dipandu kreator dan kurator.
Sementara di Mesir, Grand Egyptian Museum menyiarkan seremoni pembukaannya secara langsung kepada publik global. Kedua sesi tersebut bahkan menjangkau hampir lima juta penonton di seluruh dunia.
Fenomena ini menunjukkan perubahan penting, yakni museum kini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang dialog budaya yang bisa dinikmati siapa saja, dari mana saja.
Di Indonesia, perubahan itu mulai terasa melalui meningkatnya minat generasi muda terhadap sejarah dan budaya. Salah satu contohnya terlihat dari kunjungan kreator dan media ke Museum Tekstil Jakarta dalam rangka Hari Museum Internasional. Museum yang menyimpan jejak sejarah wastra Nusantara ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan masa lalu dengan generasi digital masa kini.
Bersama dua kreator edukasi budaya Alma Al Farisi dan Asep Roman Muhtar, pengalaman museum dihadirkan dengan pendekatan yang lebih dekat, yaitu bercerita, berdiskusi, hingga mencoba membatik secara langsung.
Menurut Alma Al Farisi, museum sebenarnya bukan ruang yang eksklusif atau membosankan. Yang terpenting adalah rasa ingin tahu untuk mulai datang dan menikmati pengalaman tersebut.
“Tidak perlu langsung merasa harus memahami semuanya. Datang saja dulu, lihat-lihat, have fun terlebih dahulu. Museum itu ruang untuk belajar dan mencoba memahami cerita di balik koleksinya,” ujar Alma Al Farisi, saat ditemui di Amanaia Satrio, Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis, 21 Mei 2026.
Alma melihat sejarah dan budaya menjadi lebih mudah diterima ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam banyak kontennya, ia mencoba menghubungkan sejarah tekstil dan pakaian dengan konteks sosial yang lebih luas, sehingga terasa relevan bagi generasi sekarang.
“Fashion history atau sejarah tekstil itu sebenarnya merekam apa yang terjadi di suatu zaman. Dari pakaian, kita bisa melihat bagaimana masyarakat berpikir, kondisi ekonomi, hingga identitas budaya saat itu,” jelasnya.
Di tengah perubahan ini, platform digital mulai memainkan peran penting sebagai jembatan budaya. TikTok memanfaatkan momentum Hari Museum Internasional melalui berbagai program edukasi global. Melalui program baru TikTok LIVE bertajuk Comes Alive, pengguna mendapat akses ke konten edukasi sepanjang tahun, termasuk wisata virtual museum dari berbagai negara.
Program pembuka bertajuk Museums Come Alive menghadirkan tur virtual eksklusif bersama institusi budaya dunia, mulai dari Museum of Modern Art (MoMA) di New York, National Museum of Kazakhstan, hingga Pokémon Fossil Museum di Chicago. Di Indonesia sendiri, TikTok LIVE sebelumnya juga menghadirkan tur pameran “NYOTA di Tanah Air” di Museum Nasional Indonesia.
Menurut Karen Kang, Culture and Education Partnerships Lead TikTok, ruang digital memungkinkan museum menemukan audiens baru yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Institusi budaya selalu memiliki kekuatan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, dan kini berpeluang menjangkau orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tersebut. Pertumbuhan #MuseumTok membuktikan bahwa ketika museum hadir di ruang digital tempat orang sudah aktif berinteraksi, audiens baru pun ikut terhubung,” ujar Karen Kang.
Bagi Asep Roman Muhtar, perkembangan ini membuka peluang besar agar museum tidak lagi dipandang sebagai tempat yang 'terlalu serius' atau hanya untuk kalangan tertentu. Ia percaya pendekatan digital justru dapat memantik rasa penasaran publik.
“Aku tidak pernah memaksa orang harus langsung mengerti sejarah atau budaya. Biasanya cukup mulai dari rasa penasaran, ini apa? Dari situ orang akan pelan-pelan mencari tahu lebih banyak,” kata Asep Roman Muhtar.
Asep menilai konten kreator juga berperan penting dalam memberikan konteks yang terkadang tidak sepenuhnya didapat saat melihat koleksi museum secara langsung.
“Kadang ketika melihat karya di museum, kita belum tentu tahu cerita di baliknya. Konten yang memberi konteks bisa membantu orang memahami kenapa sesuatu itu penting, sehingga pengalaman melihat museum jadi lebih bermakna,” tambahnya.
BACA JUGA:
Laporan Museum Insights Report 2026 yang diluncurkan TikTok menunjukkan tren menarik, yaitu museum dengan tema unik seperti makanan ekstrem hingga musik ternyata memiliki komunitas penggemar tersendiri. Bahkan di Indonesia, lebih dari satu dari tiga pengguna TikTok disebut tertarik pada museum, sementara lebih dari separuh tertarik pada sejarah.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa budaya pop, humor, hingga gaya bertutur kreator dapat menjadi pintu masuk efektif untuk mengenalkan sejarah kepada audiens baru.
Pengalaman budaya tetap membutuhkan keterlibatan langsung. Teknologi mungkin mampu membawa museum ke layar ponsel, tetapi pengalaman melihat koleksi secara nyata tetap menghadirkan kesan berbeda.
Karena itu, baik Alma maupun Asep sepakat bahwa langkah pertama untuk mengenal museum tidak harus rumit.
“Coba saja datang dulu. Tidak harus langsung paham semuanya. Kadang rasa penasaran itu muncul justru setelah melihat langsung,” ujar Alma.
“Museum bisa jadi cara melihat bagaimana orang-orang di masa lalu hidup, berpikir, dan membentuk budaya yang masih kita rasakan sampai sekarang." tutup Asep.
Di era digital, museum tidak lagi sekadar ruang penyimpanan masa lalu. Dengan dukungan teknologi dan kreativitas, museum perlahan berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Hal ini membuat sejarah terasa lebih dekat, inklusif, dan relevan bagi generasi hari ini.