JAKARTA - Aktris muda Shaloom Razade kembali mengasah kemampuan aktingnya lewat proyek film terbaru yang berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati yang akan tayang pada 7 Mei mendatang.
Berbeda dengan pemeran lainnya, Shaloom mendapatkan porsi karakter yang hidup di garis waktu (timeline) yang berbeda.
Dalam film ini, Shaloom memerankan karakter bernama Isabella, seorang perempuan yang hidup jauh di masa lalu. Ia pun harus menyesuaikan diri dengan latar waktu era kolonial.
"Kalau cast lain tahun sekarang, karena kan aku tuh flashback-nya. Jadi di zaman penjajahan Belanda," ungkap Shaloom Razade di kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 7 April.
Putri dari Wulan Guritno ini mengaku perannya kali ini sangat krusial. Namun, ia sangat berhati-hati agar tidak membocorkan jalan cerita terlalu jauh.
"Tapi aku sudah nggak bisa ngasih tahu apa-apa lagi karena, yang tadi aku bilang, nggak tahu kenapa semua karakter yang dikasih ke aku tuh mungkin ada garis benang merahnya untuk ceritanya yang penting. Jadi aku tidak bisa ngasih tahu hal yang lebih," jelasnya.
Satu hal yang bisa ia pastikan, karakternya adalah sosok perempuan yang berani menyuarakan kebenaran di masa penjajahan.
"Tapi yang terpenting itu, Isabella adalah aktivis pada zaman Belanda untuk membela hak-hak pribumi," tegas Shalom.
Memerankan sosok dari masa lalu tentu memberikan tantangan tersendiri bagi aktris berusia 26 tahun ini. Ia harus meriset ulang bagaimana cara orang pada masa itu hidup dan berinteraksi.
"Pasti (susah), karena di zaman itu, mungkin cara orang berjalan saja beda, cara berbicara saja beda," tuturnya.
Selain gestur, kendala bahasa menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi Shalom. Ia dituntut untuk bisa melafalkan bahasa asing sekaligus bahasa daerah.
"Apalagi juga harus mengerti berbahasa Belanda, ya kan? Harus belajar itulah, bahasa Belitong juga," akunya.
"Jadinya mungkin di sini tuh challenge-nya itu gerak-gerik dan juga bahasa sih, itu yang challenge utamanya," tambah Shalom.
Lebih lanjut, Shalom menjelaskan bahwa tata krama dan cara bersosialisasi orang zaman dahulu sangat berbeda dengan generasi sekarang yang lebih bebas. Hal ini harus ia aplikasikan ke dalam tubuh karakternya.
"Karena dulu mungkin orang lebih sungkan, nggak se-open dan blak-blakan sekarang kan, orang ngomong apa adanya. Kalau dulu tuh masih ada tata cara yang baik dan benar untuk berbicara, untuk gaya bahasa itu berbeda," urainya.
Untuk menyiasati segala kesulitan tersebut, Shalom melakukan berbagai metode riset. Mulai dari menonton referensi visual hingga bertanya langsung kepada ahlinya.
"Nonton film-film yang zaman dulu, itu saja sih. Dan lebih ke mungkin bertanya ke orang yang sudah lahir pada zaman itu. Gimana sih cara mereka berpakaian—itu kan juga beda—berpakaian, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, lebih berdiskusi," pungkasnya.
Sutradara The Bell, Jay Sukmo, menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia.
“Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat,” ujar Jay Sukmo.
Sementara itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu lama,” beber Rendy Gunawan.
Selain Shaloom, film The Bell: Panggilan untuk Mati ini juga akan dibintangi oleh Ratu Sofya, Bhisma Mulia, Mathias Muchus, Septian Dwi Cahyo hingga Givina Lukita.
Sinopsis film The Bell: Panggilan untuk Mati
Di Pulau Belitung, kepercayaan terhadap hal-hal mistis masih hidup di tengah masyarakat modern. Salah satunya adalah sebuah lonceng keramat yang selama ratusan tahun dijaga oleh garis keturunan dukun untuk mengurung roh-roh jahat.
Namun ketika lonceng itu dibunyikan oleh orang yang tidak memahami risikonya, sebuah teror pun terlepas. Penebok sosok setan tanpa kepala yang dikenal haus tumbal kini kembali dan mulai menghantui desa, menyebarkan ketakutan yang tak bisa dijelaskan.
BACA JUGA:
Teror tersebut memaksa Danto (Bhisma Mulia), yang telah lama meninggalkan Belitung, untuk pulang. Bersama Airin (Ratu Sofia) dan Hanafi (Maulidan Zuhri), ia terjebak dalam upaya melawan kekuatan tak kasat mata yang berakar pada kepercayaan lama dan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.
Malam 3 Yasinan">