YOGYAKARTA - Fenomena victim blaming masih sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial. Ketika seseorang menceritakan pengalaman kekerasan atau pelecehan, respons yang muncul justru sering menyudutkan korban. Alih-alih mendapatkan dukungan, korban malah dipertanyakan atau disalahkan atas kejadian yang mereka alami.
Hal ini berdampak besar terhadap kondisi psikologis korban. Karena itu penting memahami konsep victim blaming agar kita tidak ikut memperparah keadaan korban. Dilansir dari Welsh Women’s Aid dan sumber lainnya, berikut akan dibahas apa itu victim blaming, dampaknya, dan cara merespons dengan tepat.
Apa Itu Victim Blaming?
Victim blaming adalah respons yang secara ekspilisit atau secara tersirat menyatakan bahwan korbanlah yang harus disalahkan atas kekerasan atau pelecehan yang mereka alami. Victim blaming fokus justru pada tindakan korban, bukan pada pelaku yang melakukan kekerasan. Padahal, tanggung jawab sepenuhnya ada pada pelaku, bukan korban.
Victim blaming seringkali berputar pada tindakan yang seharusnya dapat dilakukan atau tidak dilakukan untuk menghindari tindak kekerasan atau pelecehan. Misalnya, mempertanyakan pilihan pakaian, perilaku, atau keputusan korban sebelum kejadian. Hal ini membuat narasi seolah-olah korban memiliki andil atas peristiwa tersebut.
Padahal kenyataannya, kekerasan akan tetap terjadi terlepas dari pilihan atau tindakan korban. Menyalahkan korban hanya mengaburkan fakta bahwa pelaku adalah pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab.
BACA JUGA:
Dampak Victim Blaming terhadap Korban
Victim blaming berdampak pada psikologis korban dalam jangka panjang. Penyintas kekerasan atau pelecehan bisa mengalami rasa bersalah, malu, kehilangan kepercayaan diri, bahkan membuat meraka merasa bertanggung atas tindakan pelaku.
Ketika korban merasa disalahkan, mereka cenderung meragukan pengalaman yang mereka alami. Hal ini dapat memperparah trauma dan memperlambat proses pemulihan. Bahkan, beberapa korban memilih untuk diam karena takut tidak dipercaya.
Selain itu, victim blaming menjadi salah satu penghalang terbesar bagi korban untuk mencari bantuan atau keadilan. Mereka khawatir akan mendapatkan respons negatif yang sama dari orang lain. Akibatnya, banyak kasus kekerasan yang tidak pernah dilaporkan.
Respons yang Membantu Pemulihan Korban
Ketika seseorang menceritakan pengalaman kekerasan atau pelecehan, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mendengarkan. Berikan ruang bagi mereka untuk berbicara tanpa penilaian apa pun. Sikap ini menunjukkan bahwa kita menghargai dan peduli terhadap perasaan mereka.
Selanjutnya, penting untuk menunjukkan bahwa kita percaya pada cerita mereka. Yakinkan meraka bahwa itu bukanlah kesalahan mereka. Dukungan emosional seperti ini membantu mengurangi rasa bersalah yang mereka rasakan.
Terakhir, bantu korban untuk melihat ke masa depan. Alih-alih fokus pada masa lalu, dorong mereka untuk mencari bantuan profesional atau dukungan yang dibutuhkan untuk penyembuhan atau pemulihan.
Empati menjadi fondasi utama dalam menghadapi situasi ini. Dengan mencoba memahami perasaan korban, kita dapat memberikan respons yang lebih manusiawi. Hal ini bukan hanya membantu korban pulih lebih cepat, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih peduli.
Selain pembahasan soal victim blaming, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!