Bagikan:

JAKARTA -Kekerasan dalam hubungan personal sering kali menjadi isu yang sulit terdeteksi karena akarnya yang tersembunyi dalam struktur relasi kuasa dan budaya. Data menunjukkan bahwa mayoritas kasus kekerasan terhadap perempuan justru terjadi di ranah personal. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa kekerasan psikis sering kali luput dari perhatian karena tidak meninggalkan luka fisik.

Psikolog dari Yayasan Pulih, Agata Paskarista, menjelaskan bahwa kekerasan psikis sering kali "dibungkus" dalam bentuk perhatian atau kontrol yang berlebihan. "Kekerasan bisa muncul dalam bentuk manipulasi atau candaan yang merendahkan, namun dampaknya terhadap kesehatan mental korban sangat serius dan bersifat jangka panjang," ujarnya.

Untuk mencegah dampak yang lebih dalam, masyarakat perlu mengenali 9 tanda kekerasan dalam hubungan yang sering kali tidak disadari sebagai bentuk pelanggaran kebebasan:

Mengabaikan: Menganggap perasaan atau keberadaan pasangan tidak penting.

Meremehkan: Menghina kemampuan atau harga diri pasangan.

Mengontrol: Membatasi pilihan atau kebebasan pribadi.

Memanipulasi: Memutarbalikkan fakta untuk menyalahkan pasangan.

Mengancam: Menggunakan rasa takut untuk mendapatkan kepatuhan.

Mencemburui: Cemburu buta yang posesif dan tidak sehat.

Mengintrusi: Melanggar privasi secara paksa.

Mengisolasi: Menjauhkan pasangan dari teman atau keluarga.

Mengintimidasi: Membuat pasangan merasa terancam secara fisik atau mental.

Langkah awal untuk memutus rantai ini adalah keberanian untuk mengenali tanda tersebut sejak dini dan berhenti melakukan victim-blaming. Kekerasan bukanlah kesalahan korban, dan dukungan yang tepat dari lingkungan sekitar sangat krusial untuk membantu korban memulihkan kedaulatan atas dirinya sendiri.