Bagikan:

JAKARTA - Dalam beberapa waktu terakhir, dessert berbahan pistachio sedang naik daun. Mulai dari croissant isi pistachio, minuman latte berwarna hijau, hingga cokelat 'Dubai-style' yang viral di media sosial.

Tampilan cantik dan kesan mewah membuat pistachio seolah menjadi bahan premium yang identik dengan gaya hidup sehat.

Namun di balik tren ini, muncul pertanyaan penting, apakah pistachio menyehatkan atau hanya sekadar terlihat sehat karena popularitasnya?

Secara alami, pistachio memang termasuk kacang yang kaya nutrisi. Kandungan serat, protein nabati, serta lemak sehat menjadikannya pilihan camilan yang baik jika dikonsumsi dengan cara yang tepat.

“Segenggam 30 gram terdapat sekitar 3 gram serat, yaitu sekitar 10 persen dari rekomendasi harian 30 gram," kata Hobson, dikutip dari laman Daily Mail.

Serat ini penting untuk menjaga kesehatan pencernaan sekaligus membantu mengontrol kadar gula darah. Selain itu, pistachio juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting.

“Dalam 30 gram terdapat protein nabati, serat, kalium, magnesium, fosfor, vitamin B6, dan vitamin E," ucap Hobson.

Kombinasi ini membuat pistachio bermanfaat untuk kesehatan jantung, tekanan darah, hingga menjaga energi tubuh tetap stabil.

Banyak orang menghindari kacang karena kandungan lemaknya. Namun, pada pistachio, sebagian besar lemak tersebut adalah lemak tak jenuh yang justru baik untuk tubuh.

“Porsi 30 gram mengandung sekitar 13 gram lemak, dengan hanya sekitar 1,5 gram lemak jenuh,” jelas Hobson.

Artinya selama dikonsumsi dalam jumlah wajar, pistachio tidak hanya aman tetapi juga mendukung kesehatan jantung. Menariknya meskipun tinggi kalori, pistachio tidak menyebabkan kenaikan berat badan.

“Orang yang rutin makan kacang tidak cenderung mengalami kenaikan berat badan,pistachiobahkan sering memiliki berat badan lebih sehat," beber Hobson.

Hal ini karena kombinasi protein dan serat membuat perut kenyang lebih lama, sehingga membantu mengurangi keinginan ngemil berlebihan.

Di sinilah letak masalah dari tren dessert pistachio. Banyak produk yang viral justru bukan pistachio dalam bentuk alaminya, melainkan sudah diolah dengan tambahan gula dan lemak.

“Masalahnya adalah produk tersebut tinggi gula dan lemak jenuh," imbuh Hobson.

Contohnya seperti krim pistachio, olesan manis, atau cokelat isi pistachio yang sebenarnya lebih mendekati kategori permen daripada makanan sehat.

“Pada titik itu, produk tersebut menjadi permen, bukan makanan utuh," tutur Hobson.

Jadi meskipun menggunakan nama pistachio, nilai gizinya bisa sangat berbeda dari kacang aslinya. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, pistachio sebaiknya dikonsumsi dalam bentuk sederhana.

“Idealnya tanpa garam atau sedikit garam dan sebaiknya masih dalam cangkang." ucap Hobson.

Pistachio bisa ditambahkan ke yogurt, oatmeal, salad, atau dimakan langsung sebagai camilan sehat.