Bagikan:

YOGYAKARTA - Menurut sejarah, orang Tionghoa diperkirakan datang dan menetap di daerah Tangerang sejak 1407. Adapun tujuan kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang pada saat itu yaitu untuk berdagang. Selama tinggal di Tangerang, terjadilah pernikahan antara orang Tionghoa dan orang pribumi di sana. Keturunan hasil perkawinan tersebut disebut dengan peranakan Tionghoa hingga saat ini. Nah, dalam kesehariannya di Tangerang, peranakan Tionghoa juga mendirikan sebuah rumah persembahyangan, yang diberi nama Kelenteng Boen Tek Bio.

Bagaimana Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio?

Kelenteng Boen Tek Bio adalah kelenteng tertua yang berdiri di daerah Kalipasir, Tangerang. Kelenteng ini diperkirakan sudah ada sejak 1684.

Dilansir dari Antara, Sekretariat Badan Pengurus Perkumpulan Boen Tek Bio, Tedy Santibalo menjelaskan pada zaman dahulu Kelenteng Boen Tek Bio dibangun dengan cara gotong royong.

Peranakan Tionghoa di kawasan tersebut mengumpulkan dana secara kolektif untuk membangun sebuah kelenteng.

"Kelenteng ini dulu dibangun dengan sangat sederhana, konon dulu masih berbentuk atap rumbia," kata Tedy.

Pemberian nama Boen Tek Bio, jelas Tedy, mengandung makna tertentu. Kata "boen" bermakna intelektual, "tek" berarti kebajikan, dan "bio" berarti tempat ibadah.

"Boen Tek Bio artinya tempat ibadah yang membentuk orang yang berintelektual dengan penuh kebajikan," katanya.

Setelah didirikan pertama kali pada 1684, Kelenteng Boen Tek Bio selanjutnya dipugar pada 1844. Pemugaran ini menghabiskan waktu selama 12 tahun dan selesai pada 1856.

Tedy menyebutkan bahwa Kelenteng Boen Tek Bio yang saat ini dilihat di lokasi, bentuknya sama dengan kelenteng yang selesai dipugar pada 1856.

"Setelah dipugar dari 1844 hingga 1856, kelenteng itu tidak ada lagi dirombak sampai sekarang," ujar Tedy.

Meskipun begitu, Tedy menjelaskan bahwa pengurus kelenteng tetap merawat dan menjaga kelenteng agar tetap kokoh dan awet.

Adapun perawatan kelenteng yang dilakukan yaitu mengganti cat kelenteng yang sudah terlihat pudar, hingga menambal bagian-bagian yang sudah terlihat lapuk.

"Konstruksi bangunan tersebut (kelenteng) tidak kami ganti, karena bangunan tersebut sangat kokoh," papar Tedy.

Setelah Kelenteng Boen Tek Bio didirikan di kawasan Pasar Lama Tangerang, lima tahun kemudian sebuah kelenteng di kawasan Pasar Baru, Tangerang, kembali dibangun. Kelenteng itu diberi nama Kelenteng Boen San Bio.

Lima tahun setelahnya dibangun lagi sebuah kelenteng di kawasan Pasar Lama, Serpong, bernama Kelenteng Boen Hay Bio. Pembangunan dua kelenteng setelah Kelenteng Boen Tek Bio mengandung makna tertentu. Kata Tedy, tiga kelenteng ini memiliki filosofi "bersandar gunung memandang lautan".

Filosofi tersebut diwakilkan dengan makna nama setiap kelenteng. Kata "san" pada nama Boen San Bio berarti lautan, sedangkan kata "hay" pada nama Boen Hay Bio berarti Gunung.

Posisi ketiga kelenteng tersebut, jelas Tedi, membentuk garis lurus saat dilihat dari hasil pemotretan satelit.

"(kelenteng) Boen Tek Bio ada di tengah, di depannya (kelenteng) Boen Hay Bio, dan di belakangnya adalah (kelenteng) Boen San Bio," paparnya.

Demikianlah ulasan tentang klenteng Boen Tek Bio dan sejarahnya. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.