Bagikan:

YOGYAKARTA - Siapa yang berhak menerima angpao Imlek sering menjadi pertanyaan menjelang Tahun Baru Imlek, terutama bagi generasi muda yang ingin memahami tradisi dan makna budaya Tionghoa.

Faktanya, tradisi angpao bukan sekadar berbagi uang, tetapi sarat makna simbolis tentang doa, keberuntungan, dan hubungan keluarga yang telah dijaga turun-temurun dalam perayaan Imlek.

Dilansir dari laman University in Winston-Salem dan Google Art & Culture, berikut ini beberapa pemahaman mengenai tradisi angpao yang wajib Anda ketahui:

Pengertian Angpao dalam Tradisi Imlek

Angpao atau hongbao dalam budaya Tionghoa adalah amplop merah berisi uang yang diberi saat Tahun Baru Imlek. Kata hongbao berasal dari bahasa Mandarin, sedangkan dalam dialek lain disebut lai see (Kanton) atau angpau dalam Hokkien.

Tradisi penerimaan angpau ini bukan hanya tentang uangnya, melainkan simbol keberuntungan, keselamatan, dan harapan baik untuk tahun yang baru.

Warna merah sendiri dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif. Amplop biasanya dihiasi dengan simbol-simbol keberuntungan seperti naga, burung phoenix, singa Tiongkok, atau hewan zodiak tahun itu.

Menariknya, dalam praktik modern, motif populer termasuk karakter Disney atau Pokémon yang menarik bagi anak-anak.

Baca juga artikel yang membahas Habis Makan Banyak Saat Imlek? Coba 5 Cara Detoks Ini

Siapa yang Berhak Menerima Angpao Imlek?

Secara tradisional, semua anak-anak yang belum menikah berhak menerima angpao Imlek. Mereka biasanya menerima dari orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, serta kerabat lain yang lebih tua.

Tidak jarang teman dekat keluarga atau tetangga yang memiliki hubungan akrab juga memberi angpao kepada anak-anak selama perayaan berlangsung.

Beberapa budaya keluarga tertentu bahkan memiliki kebiasaan anak-anak menerima angpao dari siapa saja yang datang berkunjung saat perayaan.

Di beberapa komunitas, ungkapan populer yang sering terdengar adalah “Gōng Xǐ Fā Cái, Hóng Bāo Ná Lái!” yang artinya semoga makmur dan… angpaonya mana? Nah tentu yang terakhir ini tentu disampaikan dengan nada bercanda.

Kriteria Pemberi Angpao

Pemberi angpao umumnya adalah orang yang sudah menikah atau yang lebih senior secara keluarga, seperti:

  • Orang tua dan kerabat yang lebih tua
  • Kakek dan nenek
  • Paman dan bibi
  • Kadang sahabat keluarga atau tetangga dekat

Tradisi ini menunjukkan hubungan antara pemberi yang lebih mapan dan penerima yang lebih muda atau belum menikah. Di beberapa keluarga, orang lajang dewasa juga bisa memberi angpao kepada saudara yang lebih muda sebagai bentuk belas kasih.

Etika dan Aturan Pemberian Angpao

Tidak hanya soal siapa yang memberi dan menerima, ada juga aturan budaya yang dijaga turun-temurun:

  • Nilai Uang yang Dimasukkan

Orang Tionghoa sangat memperhatikan angka dalam amplop. Jumlah yang mengandung angka 4 dihindari karena bunyinya mirip kata kematian, sehingga dianggap membawa nasib kurang baik. Sebaliknya, angka 8 sangat disukai karena bunyinya mirip kata kemakmuran atau rejeki.

  • Uang Baru

Dianjurkan menggunakan uang baru yang bersih dan rapi, karena ini melambangkan awal yang baru dan membawa keberuntungan, bukan uang lusuh atau koin.

  • Cara Memberi dan Menerima

Saat menerima angpao, sebaiknya dengan dua tangan penuh rasa hormat. Dalam praktik tradisional yang lebih formal, anak-anak kadang juga berlutut saat menerima dari yang lebih tua.

Selain itu, angpao sebaiknya tidak dibuka di depan pemberi sebagai tanda sopan santun.

Makna Filosofis di Balik Tradisi Angpao

Lebih dari sekadar uang, angpao adalah simbol kasih sayang, harapan, dan doa bagi masa depan yang lebih baik. Tradisi ini memperkuat hubungan keluarga dan menghubungkan generasi tua dengan yang muda melalui doa dan kebersamaan.

Di dalam amplop, ada pesan tentang keberuntungan, cinta kasih, dan kegembiraan menyongsong tahun yang baru.

Selain pembahasan mengenai siapa yang berhak menerima angpao imlek, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!