JAKARTA - Bagi wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, tumpeng mungkin terlihat seperti sajian nasi kuning berbentuk kerucut yang estetik. Namun, di balik tampilannya, tumpeng adalah sebuah living tradition—tradisi yang hidup dan menyimpan narasi mendalam tentang sejarah serta spiritualitas Nusantara.
Dalam peluncuran buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa di Jakarta (15/1), Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa tumpeng bukan sekadar makanan, melainkan simbol identitas budaya yang menyatukan bangsa.
Jejak Sejarah yang Melintas Zaman
Daya tarik tumpeng bagi pecinta wisata budaya terletak pada evolusinya. Tradisi ini telah eksis sejak masa Hindu-Buddha, kemudian beradaptasi secara harmonis saat Islam masuk ke Nusantara melalui peran para Wali. Kemampuannya untuk bertahan dan tetap relevan hingga hari ini menjadikan tumpeng sebagai salah satu identitas kultural terkuat dalam setiap seremoni masyarakat Indonesia.
Simbolisme yang Mendalam
Tumpeng bukan hanya soal rasa, tapi juga soal makna. Setiap elemennya mencerminkan nilai-nilai luhur:
Simbol Syukur: Bentuk kerucutnya merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Kebersamaan: Sajian ini dirancang untuk dinikmati bersama, melambangkan gotong royong dan kesejahteraan.
SEE ALSO:
Nilai Ekologis: Bahan-bahan yang digunakan mencerminkan kekayaan hasil bumi lokal, menjadikannya ikon gastronomi yang berkelanjutan.
Menuju Panggung Gastronomi Dunia
Pemerintah kini mendorong tumpeng sebagai instrumen diplomasi budaya. Dengan lebih dari 2.700 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan hingga 2025—di mana 20 persennya adalah kuliner—tumpeng siap menjadi "pintu masuk" bagi wisatawan mancanegara untuk mengenal Indonesia lebih dalam.
Melalui literasi seperti buku yang disusun oleh Indonesia Gastronomy Community (IGC) ini, tumpeng diharapkan tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi duta budaya yang memperkenalkan nilai-nilai filosofis Indonesia ke kancah global.