Bagikan:

JAKARTA - Komedian legendaris Harry De Fretes kini tengah serius menekuni dunia barunya sebagai seorang pengusaha kuliner. Di balik kesuksesan warung bubur "Boim Chicken" yang baru berjalan empat bulan, ternyata ada kisah perjuangan yang penuh dengan "pukulan".

Harry mengakui bahwa dunia bisnis sangat berbeda dengan dunia seni peran yang telah ia geluti selama puluhan tahun.

"Berdagang tuh beda dengan sama kita misalnya saya jadi seniman, jadi artis ya," ujarnya di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Desember.

Apabila sebagai artis semua sudah dipersiapkan, di dunia bisnis ia harus memulai segalanya dari nol. Ia pun mengibaratkan pengalamannya selama empat bulan ini seperti dihujani pukulan di atas ring tinju.

"Benar, ini kayak saya ditinjuin tahu enggak? Asli. Kayak ditinjuin tahu enggak? Buagh! Buagh!" serunya dengan gaya khasnya.

Salah satu "pukulan" terberat adalah saat ia harus belajar membuat bubur sendiri. Ia menyadari bahwa untuk sukses, seorang pemilik usaha harus menguasai produknya dari A sampai Z.

"Saya pernah baca di satu buku tentang bisnis, kalau baru mulai itu jangan langsung serahin ke orang. Kamu harus juga tahu how to make it," jelasnya.

Ternyata, membuat bubur tidak semudah yang ia bayangkan. "Biarpun sudah lama, sudah hampir 2 jam lu ngaduk, belum jadi bubur lho!" kenangnya.

Ia bahkan sampai harus "menginterogasi" seorang tukang bubur di Jagakarsa untuk mendapatkan resep rahasianya. Salah satu kunci yang ia dapatkan adalah air yang digunakan harus benar-benar mendidih.

Selain itu, ia juga terjun langsung ke pasar untuk membeli bahan-bahan. Pengalaman ini membuatnya sadar akan fluktuasi harga yang memengaruhi biaya produksi.

Meskipun penuh dengan tantangan, Harry De Fretes merasa sangat puas. Baginya, melihat orang lain menikmati dan membayar bubur hasil karyanya sendiri adalah sebuah pencapaian yang tak ternilai.