Bagikan:

JAKARTA - Menjalani dua dunia yang berbeda memberikan Harry De Fretes sebuah perspektif yang unik. Ia merasakan betul perbedaan perlakuan dan tantangan antara menjadi seorang artis senior dengan menjadi seorang pebisnis pemula.

"Beda, Mas. Kalau di artis saya sudah diperhitungkan. Kalau di usaha saya belum diperhitungkan, Mas," ujarnya di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Desember.

Sebagai seorang artis yang telah berkarier puluhan tahun, ia mengaku sering mendapatkan berbagai kemudahan atau privilege. Namanya yang sudah dikenal membuatnya lebih dihargai.

"Mungkin karena ingat saya dulu atau gimana, jadi (disambut) 'Wah mari, oke ini ya...'," katanya.

Dari segi honor pun, ia sudah memiliki standar tersendiri sebagai seorang senior. Namun, semua privilege itu seolah sirna saat ia masuk ke dunia bisnis kuliner. Di sini, ia harus kembali merintis segalanya dari awal.

"Kalau di usaha? Belum. Saya mesti merintisnya lagi," tegasnya.

Nama besarnya sebagai "Boim" memang sedikit membantu dalam menarik pelanggan awal. Akan tetapi, pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan usahanya bukanlah popularitas, melainkan kualitas produknya.

"Dan yang sekarang yang dipentingin sama orang: Enak enggak bubur lu?" katanya.

Ia sadar betul bahwa di dunia bisnis, persaingan sangatlah ketat. "Banyak lho tukang bubur, bukan saya doang," ujarnya.