JAKARTA — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima Replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda dari Pemerintah India di Museum Muarajambi, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, Kamis (18/12). Penyerahan ini memperkuat posisi Muarajambi sebagai simpul penting jaringan pembelajaran dan peradaban dunia sejak abad ke-9.
Replika prasasti tersebut sebelumnya diserahkan Pemerintah India kepada Indonesia di sela Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di New Delhi, 9 Desember 2025. Prosesnya merupakan hasil diplomasi kebudayaan intensif, termasuk pertemuan bilateral tingkat menteri saat kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India, Januari 2025.
Fadli Zon menegaskan, prasasti itu mengaitkan langsung Muarajambi dengan Nalanda, Sriwijaya, Dinasti Syailendra, dan Dinasti Pala. “Ini bukan sekadar artefak. Ini bukti konkret bahwa Muarajambi adalah simpul jejaring ilmu, agama, dan diplomasi budaya internasional,” ujarnya.
Ia menyebut KCBN Muarajambi—seluas hampir 4.000 hektar dengan lebih dari 90 bangunan candi—sebagai kawasan cagar budaya terluas di Asia Tenggara yang perlu dikelola sebagai ekosistem budaya. Fokusnya tidak hanya pemugaran fisik, tetapi juga penguatan museum, riset, dan keterlibatan masyarakat. Pemerintah, kata dia, tengah mempercepat penataan Museum Muarajambi, termasuk penyusunan alur cerita pameran agar menjadi pusat interpretasi sejarah yang utuh.
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, menjelaskan Prasasti Nalanda abad ke-9 merupakan dokumen diplomatik penting yang merekam hubungan Sriwijaya dan Dinasti Pala. Momentum ini juga sejalan dengan penguatan posisi Muarajambi dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO yang diperbarui pada 2025.
BACA JUGA:
Duta Besar India untuk Indonesia, Shri Sandeep Chakravorty, menilai hubungan Nalanda–Muarajambi setara jejaring pusat ilmu modern. Prasasti bertanggal 860 Masehi itu mencatat dukungan Raja Devapaladeva atas permohonan Raja Balaputradewa untuk pemeliharaan stupa dan para bhiksu Nusantara di Nalanda, sekaligus menjadi rujukan penting Dinasti Syailendra, pembangun Candi Borobudur.