JAMBI — Pemerintah memacu penataan dan pemugaran Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat peradaban kuno terbesar di Asia Tenggara. Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan penataan kawasan sekaligus purna pugar sejumlah candi utama di Muarajambi, Provinsi Jambi, Kamis, 18 Desember.
Peresmian mencakup purna pugar Candi Parit Duku, Candi Gedong I, Mandapa dan Gapura Candi Tinggi, Candi Alun-Alun, serta Candi Teluk 1. Langkah ini menjadi sinyal percepatan pelestarian situs yang diyakini berkembang sejak abad ke-6 hingga ke-13 dan terkait erat dengan jejaring intelektual dunia Buddhisme.
“Muarajambi membentang sekitar 3.950 hektar dengan kurang lebih 115 struktur candi. Ini salah satu kompleks percandian terbesar di dunia,” kata Fadli Zon. Hingga kini, baru 12 struktur yang dipugar. Pemerintah menargetkan percepatan pemugaran situs-situs utama dengan prinsip keaslian, kajian ilmiah, dan pengawasan ketat para ahli.
Fadli membuka peluang skema kemitraan publik–swasta, namun menegaskan seluruh proses berada di bawah kendali arkeolog, sejarawan, ahli cagar budaya, dan tokoh umat Buddha. “Nilai spiritual dan ilmiahnya tidak boleh bergeser,” ujarnya.
Penataan kawasan dilakukan di area sekitar 150 hektar. Fokusnya pada jalan penghubung, normalisasi kanal, fasilitas dasar, dan ruang aktivitas budaya yang melibatkan warga. Pemerintah juga menyiapkan penguatan ekonomi lokal melalui UMKM, ekonomi kreatif, pengelolaan perahu kanal, pasar dusun, serta rintisan konsep living museum mulai awal tahun depan.
BACA JUGA:
Selain itu, pembangunan museum berskala besar di lahan sekitar 30 hektar tengah dirampungkan. Fasilitasnya mencakup ruang koleksi, area immersive, teater, amphitheater, hingga zona UMKM gastronomi dan cenderamata.
“Muarajambi bukan sekadar situs, tapi ruang hidup kebudayaan yang harus memberi manfaat ekonomi nyata,” kata Fadli. Pemerintah menargetkan kawasan ini tumbuh sebagai destinasi wisata religi, budaya, sejarah, alam, dan kuliner yang berdaya saing global