JAKARTA - Grup K-pop aespa terseret konflik politik antara Jepang dan China. Alhasil, sebuah petisi yang meminta mereka untuk tidak tampil di Jepang mulai bermunculan.
Pekan lalu, aespa dikonfirmasi tampil dalam acara Kohaku Uta Gassen, sebuah acara akhir tahun dari stasiun televisi asal Jepang, NHK.
Acara yang sudah berjalan selama berpuluh tahun lamanya selalu menghadirkan berbagai penyanyi dan musisi dari Jepang mau pun negara lain, tidak terkecuali Korea Selatan. Akan tetapi berbeda dengan aespa yang justru menuai kontroversi.
Sebuah petisi dalam situs Change.org meminta NHK untuk membatalkan penampilan aespa. Petisi itu sudah ditanda tangan 70 ribu pengguna dalam dua hari.
Awalnya, mereka berargumen pembatalan aespa dikarenakan unggahan salah satu anggota, Ningning di media sosial pada tahun 2022 ketika dia mengunggah foto lampu dekorasi yang dianggap mirip dengan kabut bom nuklir. Ningning disebut tidak mengenal sejarah dengan baik.
Melansir Korea Times, salah satu pengguna yang menandatangani petisi menuliskan, “Kohaku adalah program nasional yang penting. Seseorang yang mengunggah lampu yang mirip kabut nuklir tidak boleh tampil di acara yang ditonton seluruh masyarakat.”
Unggahan itu baru ramai dibicarakan dan dibuat kecocokan pada tahun ini.
BACA JUGA:
Di sisi lain, situasi politik antara China dan Jepang memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kemungkinan keterlibatan militer di konflik Taiwan.
Pemerintah Beijing juga memperketat pelarangan wisata ke Jepang, konten dan budaya Jepang untuk diakses warganya.
Meski aespa tidak terlibat secara sepenuhnya, tapi kejadian ini membuat grup empat anggota itu menjadi korban budaya.
Sementara itu, pihak aespa mau pun stasiun televisi NHK tidak merespons terkait petisi ini.