Bagikan:

JAKARTA – Fasyen telah lama dianggap sebagai representasi identitas personal dan fungsional. Pakaian untuk bekerja berbeda dengan pakaian tidur maupun pakaian renang. Sejumlah riset menelusuri fesyen mencitrakan identitas personal, mulai dari potongan, koleksi rumah fesyen, warna, dan harga.

Menariknya, pakaian tidur atau dikenal dengan piama juga merekam perkembangan industri fesyen. Coco Chanel adalah perancang pertama yang menciptakan piama atau piyama  yang menarik dan elegan untuk wanita.

Rancangan desainer legendaris ini meyakinkan para wanita bahwa piyama dapat dikenakan dengan sentuhan kenyamanan sekaligus keindahan baju tidur tradisional. Melansir Radice, Jumat, 21 Mei, kata piyama bukan berasal dari negara Barat.

Piyama berasal dari kata pae jama atau pai jama yang berarti ‘pakaian kaki’ berasal dari kata Hindi dan dipakai dari masa kekaisaran Ottoman abad ke-13. Awalnya, piyama adalah celana panjang dengan tali ikat di pinggang.

Pakaian ini dipakai oleh wanita maupun pria di seluruh Timur Tengah dan Asia Selatan, termasuk Bangladesh, Pakistan, Iran, dan India Selatan. Ukurannya bisa longgar maupun ketat, ada juga yang kencang pada bagian pergelangan kaki.

Celana panjang ini biasanya dipasangkan dengan tunik ikat yang jatuh hingga lutut pemakainya. Padu padan tersebut dianggap sebagai cara terbaik untuk merasa nyaman dan tetap bersih termasuk ketika tidur.

Pada abad ke-14 dan 15, orang Eropa menemukan potongan pakaian tidur dan di rumah ini. Kemudian mengadopsi sesuai iklim di negaranya. Pada abad ke-17, hampir semua orang di Eropa mengenakan piyama yang diadaptasi dari kekaisaran Ottoman.

Abad Pertengahan membawa piyama sebagai fasyen yang lebih variatif. Terutama ketika mesin jahit membuat produksi fesyen jadi semakin masif. Dan desain piyama lebih panjang atau bahkan dibuat terlalu panjang serta jadi outfit siap pakai.

Dari awal 1600-an hingga pertengahan 1800-an, baju tidur desainnya seperti kemeja, berkerah dan  memiliki bukaan leher yang dalam pada bagian depan. Baru pada akhir 1800-an, piyama terbuat dari berbagai jenis kain, termasuk flanel, katun, linen, dan sutra baik yang polos maupun berwarna.

Pada awal 1900-an, piyama secara menyeluruh merebut pasar fesyen wanita. Dimulai dari desain celana dan atasan berkancing serta hiasan lembut di bagian pergelangan tangan. Variasi selanjutnya berbentuk jubbah bertali bagian pinggang atau mirip kimono.

Pada 1970-an, banyak orang memakai setelan kemeja dan celana sutra yang terinspirasi dari pakaian tidur Cina dan India. Pada awalnya piyama jadi pakaian tidur yang tak boleh dipakai keluar rumah hingga fesyen kekinian lahir dan mendobrak aturan konvensional sehingga piyama bisa jadi outfit kerja.