YOGYAKARTA – Perundungan di sekolah bukan sekadar kenakalan biasa, tetapi masalah psikologis dan sosial yang kompleks. Banyak pelaku bullying sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan rumah hingga tekanan sosial dari teman sebaya. Menurut tim psikolog dari The Psych Professionals, perilaku bullying sering kali muncul karena individu mengalami konflik emosional yang tidak terselesaikan dan mencari cara untuk mengendalikan situasi. Dengan memahami akar penyebabnya, baik sebagai orang tua, guru, atau siswa, bisa ikut berperan dalam mencegah terjadinya perundungan di sekolah. Ini dijelaskan faktor yang sering menjadi pemicu terjadinya bullying.
1. Lingkungan rumah yang penuh kekerasan
Beberapa siswa tumbuh di rumah di mana kekerasan verbal atau fisik menjadi hal yang biasa, seperti teriakan atau ancaman. Ketika anak menyaksikan kekerasan di rumah, mereka bisa meniru perilaku itu di sekolah karena menganggapnya sebagai cara untuk mengendalikan orang lain. Anak-anak belajar melalui observasi, dan rumah menjadi tempat pertama mereka memahami hubungan sosial. Jika di rumah mereka sering melihat kekerasan, mereka mungkin menganggapnya wajar melakukannya untuk mendapatkan rasa hormat atau kekuasaan. Akibatnya, perilaku agresif ini terbawa ke lingkungan sekolah dan menimbulkan perundungan terhadap teman yang dianggap lemah.
2. Hubungan sosial yang kurang suportif
Siswa yang merasa tidak punya teman dekat atau dukungan emosional bisa mengalami rasa terisolasi. Ketika seseorang merasa tidak diterima, mereka mungkin mencoba menegaskan diri dengan cara yang salah. Misalnya dengan mem-bully orang lain. Dalam banyak kasus, bullying menjadi “pelindung” agar mereka tidak tampak lemah di depan teman sebayanya. Penting dipahami, remaja yang kurang memiliki hubungan positif seringkali berusaha menciptakan rasa kendali dengan menekan orang lain. Perilaku ini sebenarnya menunjukkan kebutuhan akan penerimaan dan rasa aman yang belum terpenuhi.
3. Hadiah sosial dan perhatian dari teman sebaya
Tidak sedikit pelaku bullying yang melakukannya karena ingin mendapatkan perhatian atau status sosial. Di beberapa kelompok sekolah, perilaku agresif justru dianggap keren atau berani. Melansir The Psych Professionals, Selasa, 4 November, setiap kali pelaku mendapatkan tawa, sorakan, atau dukungan dari teman, perilaku tersebut makin diperkuat. Hal ini menciptakan semacam “hadiah sosial” yang membuat pelaku merasa berkuasa. Tanpa disadari, dukungan lingkungan sekitar membuat bullying menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
4. Keinginan untuk mengendalikan
Ada kalanya perundungan dilakukan karena pelaku ingin merasa berkuasa atau mengendalikan situasi sosial. Perasaan ini sering berakar dari pengalaman hidup di mana seseorang pernah kehilangan kendali, seperti konflik keluarga atau pengalaman traumatis. Dorongan untuk mengontrol bisa muncul sebagai cara melindungi diri dari rasa takut atau ketidakpastian. Ketika seseorang merasa kuat dengan menindas orang lain, ia mendapatkan ilusi keamanan dan kekuasaan. Padahal, kontrol seperti ini justru memperpanjang siklus perundungan dan memperburuk kondisi sosial di sekolah.
BACA JUGA:
5. Pengalaman sebagai korban bullying
Ironisnya, banyak pelaku perundungan pernah menjadi korban sebelumnya. Mereka membawa luka emosional yang belum sembuh dan menyalurkannya dengan cara yang salah. Perilaku ini sering muncul sebagai bentuk “pembalasan” tidak langsung atau upaya untuk mengubah posisi dari korban menjadi pelaku agar tidak merasa lemah lagi.
Sayangnya, pola ini menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit diputuskan. Setiap generasi korban baru bisa berpotensi menjadi pelaku berikutnya jika tidak mendapat dukungan dan pendampingan psikologis yang tepat.
6. Kurangnya empati
Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ketika anak atau remaja tidak memiliki empati, mereka lebih mudah menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah. Rendahnya empati sering kali berkaitan dengan kurangnya pendidikan emosional atau pengasuhan yang tidak hangat. Anak yang tidak diajarkan cara mengenali dan mengekspresikan perasaan cenderung kesulitan memahami dampak tindakannya terhadap orang lain. Akibatnya, mereka bisa mem-bully tanpa menyadari seberapa besar luka yang ditimbulkan.
Memahami faktor-faktor penyebab perundungan di lingkungan sekolah membantu kita lebih peka terhadap perilaku anak dan remaja di sekitar. Dengan mengenali akar masalah, Anda dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif. Pendekatan pencegahan yang efektif harus melibatkan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan komunitas. Setiap pihak perlu menumbuhkan empati, komunikasi, dan rasa aman agar bullying tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Dengan langkah kecil namun konsisten, kita bisa membangun budaya saling menghargai dan bebas dari perundungan.