Bagikan:

YOGYAKARTA - Banyak orang melakukan facial untuk membersihkan pori, mengangkat sel kulit mati, mengurangi komedo, dan membuat wajah tampak lebih segar. Namun, pertanyaan pentingnya adalah seberapa sering facial boleh dilakukan agar hasilnya maksimal tanpa membuat kulit iritasi?

Secara umum, facial dapat dilakukan setiap 4 sampai 6 minggu sekali. Jeda ini memberi waktu bagi kulit untuk pulih setelah proses pembersihan, eksfoliasi, ekstraksi komedo, atau penggunaan bahan aktif. Namun, frekuensi tersebut tidak berlaku sama untuk semua orang. Jenis kulit, kondisi jerawat, sensitivitas kulit, usia, dan jenis facial sangat menentukan jadwal yang paling aman. Umumnya frekuensi facial bergantung pada tipe kulit, kebutuhan perawatan, tujuan, dan jenis tindakan yang dilakukan.

Seberapa Sering Facial Boleh Dilakukan?

1. Facial untuk Kulit Normal dan Kombinasi

Pemilik kulit normal atau kombinasi biasanya cukup melakukan facial setiap 4 sampai 6 minggu sekali. Kulit jenis ini umumnya tidak terlalu berminyak, tidak terlalu kering, dan tidak mudah bereaksi terhadap produk perawatan. Facial bulanan membantu menjaga kebersihan pori, memperbaiki tekstur kulit, dan mempertahankan kelembapan.

Namun, jangan terlalu sering melakukan facial hanya karena ingin wajah cepat glowing. Kulit bukan printer yang bisa dipaksa bekerja lebih cepat, sayangnya. Terlalu sering melakukan eksfoliasi, scrubbing, atau tindakan pembersihan agresif justru dapat melemahkan skin barrier.

2. Facial untuk Kulit Berminyak dan Berkomedo

Kulit berminyak, mudah berkomedo, atau rentan tersumbat dapat melakukan facial lebih sering, sekitar 3 sampai 4 minggu sekali. Tujuannya untuk membantu membersihkan pori dan mengurangi penumpukan minyak. Namun, ekstraksi komedo harus dilakukan oleh tenaga profesional agar tidak menimbulkan luka, bekas kehitaman, atau peradangan.

Jika kulit sedang mengalami jerawat meradang, facial tidak boleh dilakukan sembarangan. Melansir dari Mayo Clinic, disarankan agar kulit berjerawat tidak terlalu sering digosok, dicuci berlebihan, atau diberi produk yang bersifat mengiritasi karena hal tersebut dapat memperburuk jerawat.

3. Facial untuk Kulit Kering dan Sensitif

Pemilik kulit kering atau sensitif sebaiknya memberi jeda lebih panjang, sekitar 6 sampai 8 minggu sekali. Kulit sensitif lebih mudah merah, perih, panas, atau mengelupas setelah facial. Pilih facial yang fokus pada hidrasi, calming treatment, dan perbaikan skin barrier.

Hindari facial dengan scrub kasar, peeling kuat, atau ekstraksi berlebihan. American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa chemical peel dapat digunakan oleh dokter kulit untuk beberapa masalah seperti jerawat dan hiperpigmentasi, tetapi jenis dan kedalamannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.

Kapan Facial Tidak Disarankan?

Tunda facial jika kulit sedang mengalami jerawat bernanah parah, luka terbuka, iritasi berat, sunburn, alergi aktif, atau baru menjalani tindakan seperti laser, peeling medis, microneedling, atau penggunaan retinoid kuat. Dalam kondisi seperti ini, kulit membutuhkan pemulihan, bukan tambahan drama kosmetik.

Jadi, Seberapa Sering Facial yang Ideal?

Jawaban paling aman untuk seberapa sering facial boleh dilakukan adalah setiap 4 sampai 6 minggu sekali untuk kulit normal. Kulit berminyak dapat mempertimbangkan 3 sampai 4 minggu sekali, sedangkan kulit sensitif lebih aman setiap 6 sampai 8 minggu sekali. Jika memiliki jerawat aktif, rosacea, eksim, atau flek berat, konsultasi dengan dokter kulit lebih dianjurkan sebelum membuat jadwal facial rutin.

Facial yang baik bukan yang paling sering, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhan kulit. Perawatan wajah harus membantu kulit menjadi lebih sehat, bukan membuatnya lelah karena terlalu sering “diperbaiki”. Selain itu, ketahui juga Langkah Mudah Miliki Kulit Sehat dan Glowing Tanpa Repot Beli Skincare Mahal

Jadi setelah mengetahui seberapa sering facial boleh dilakukan, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!